Ponorogo, LINGKARWILIS.COM – Musim libur sekolah di Ponorogo dimanfaatkan oleh puluhan anak dan remaja untuk bermain layangan aduan yang kini kembali jadi tren. Setiap sore, Lapangan Panahan di Jalan Menur disulap menjadi arena pertarungan layang-layang yang seru dan penuh adrenalin.
Fenomena ini tak sekadar menerbangkan layangan, melainkan adu strategi dalam permainan yang dikenal sebagai “layangan sukoi”. Permainannya simpel namun menantang: dua layangan diadu di udara hingga salah satunya putus talinya. Yang mampu bertahan di langit jadi pemenangnya.
“Kalau sudah musim kemarau dan liburan begini, waktunya main layangan,” ujar Ardi Laksono, salah satu remaja yang rutin datang, Sabtu (5/7/2025).
Ardi mengungkapkan, keseruan bukan hanya dari menang-kalah. Ada kepuasan tersendiri saat berhasil memutus benang lawan, apalagi jika layangan putus jadi rebutan bocah-bocah yang berlarian mengejarnya.
“Biasanya mulai jam empat sore sampai menjelang magrib. Sehari kadang habis sepuluh layangan,” tambahnya sambil membenahi benang di tangannya.
Ia menyebutkan, perlengkapan aduan tidak sembarangan. Para pemain membawa benang khusus bernama gelasan, yang kualitas dan harganya bervariasi. “Ada yang murah, tapi yang bagus bisa sampai ratusan ribu rupiah,” jelasnya.
Kehadiran permainan tradisional ini pun mendapat dukungan dari orang tua. Dinar Putra, salah satu warga yang kerap membawa anak-anaknya ke lapangan, menilai aktivitas ini jauh lebih positif dibanding anak-anak hanya bermain gawai di rumah.
“Main layangan bukan cuma seru, tapi juga menanamkan sportivitas dan kebersamaan. Sekalian mengenalkan budaya lokal yang mulai langka,” ujar Dinar.
Baca juga : GenSobo Farm Diresmikan, Wali Kota Kediri Dukung Petani Milenial dan Agrowisata Edukatif
Layangan aduan kini bukan sekadar hiburan, tapi juga ajang interaksi dan pelestarian budaya yang mempererat hubungan sosial di tengah derasnya arus digitalisasi.***
Reporter : Sony Dwi Prastyo
Editor : Hadiyin





