LINGKARWILIS.COM – Fenomena sound horeg yang marak di sejumlah wilayah Kabupaten Tulungagung mendapat sorotan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat.
Aktivitas sound horeg dinilai berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan terhadap masyarakat, khususnya akibat pancaran suara berintensitas tinggi yang dapat memicu berbagai gangguan seperti insomnia, stres, tinnitus, hingga gangguan keseimbangan saraf.
Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Tulungagung, dr. Aris Setiawan menyampaikan bahwa tren sound horeg memang tengah digemari sebagian kalangan.
Namun ia mengingatkan bahwa masyarakat sering kali tidak menyadari risiko kesehatan yang ditimbulkan dari aktivitas tersebut.
Menurut Aris, potensi gangguan tidak hanya datang dari festival sound horeg semata, melainkan dari semua kegiatan yang menggunakan pengeras suara, terlebih jika gelombang suara yang dihasilkan telah melebihi ambang batas toleransi tubuh manusia.
“Tidak adil sebenarnya jika hanya menghakimi sound horeg. Pada intinya kegiatan apapun yang menggunakan pengeras suara dan menghasilkan gelombang suara melebihi ambang batas toleransi, itu berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan,” kata dr. Aris Setiawan, Kamis (31/7/2025).
Secara medis, ia menjelaskan bahwa ambang batas aman gelombang suara bagi orang dewasa berada pada angka maksimal 80 desibel sementara untuk anak-anak sekitar 70 desibel. Sementara itu, kegiatan sound horeg diklaim dapat menghasilkan gelombang suara hingga 130 desibel.
Selain volumenya yang tinggi, gelombang suara dari sound horeg juga bersifat dinamis karena menyebar dan bergerak di area permukiman.
Polres Malang Gagalkan Peredaran 30 Gram Sabu, Pelaku Diciduk di Wagir
Hal ini, menurut Aris, berisiko lebih besar dibandingkan konser musik atau pertunjukan statis di gedung atau lapangan, yang hanya memengaruhi orang-orang di sekitarnya.
“Sound horeg ini berbeda dengan koser musik atau pertunjukan yang digelar statis di lapangan atau gedung khusus, sehingga yang terpapar hanya orang-orang yang mendekat. Sedangkan sound horeg yang aktivitasnya kerap mobile, itu potensi gangguan kesehatannya lebih besar,” ungkapnya.
Lebih jauh, ia menambahkan bahwa kelompok rentan seperti balita, lansia, dan orang yang sedang sakit sangat mungkin terdampak langsung dari aktivitas tersebut.
Efek yang timbul pun tidak selalu terjadi seketika, tetapi dapat berkembang secara perlahan, mirip dengan dampak paparan polusi udara atau asap rokok.
“Kami tidak bermaksut melarang hiburan masyarakat, namun alangkah baiknya masyarakat memiliki kesadaran bersama agar tidak merugikan masyarakat yang lain,” pungkasnya.





