Daerah  

Bioskop Lawas Masih Eksis! Layar Tancap Slamet Diburu Jelang 17-an

Bioskop Lawas Masih Eksis! Layar Tancap Slamet Diburu Jelang 17-an
Slamet Mujiono memperlihatkan perlengkapan proyektor layar tancap miliknya di rumahnya. (ist)

LINGKARWILIS.COM – Ditengah gempuran layanan streaming digital dan menjamurnya bioskop modern, tradisi hiburan rakyat berupa layar tancap ternyata belum sepenuhnya hilang.

Seperti di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, jasa bioskop keliling dengan pemutar film klasik justru mengalami peningkatan permintaan, khususnya menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

bayar PBB Kota Kediri bayar PBB Kota Kediri

Salah satu penjaga tradisi itu adalah Slamet Mujiono, warga Desa Kauman, Kecamatan Ngoro. Ia dikenal sebagai satu-satunya penyedia jasa layar tancap klasik yang masih bertahan di wilayah tersebut.

Bermodal kecintaan sejak masa kecil, Slamet kini mengelola tiga unit proyektor jadul jenis Xenon, serta menyimpan lebih dari 80 judul film dalam format seluloid.

Bikin Kostum Karnaval dari Limbah, Warga Jombang Raup Cuan Jutaan Rupiah

“Saya dulu pernah jadi operator layar tancap waktu masih SD kelas 6. Dari situ saya mulai hobi dan akhirnya mengoleksi alat-alat ini sejak 2010,” tuturnya, Kamis (31/7/2025).

Awalnya, koleksi alat proyektor dan film tersebut hanya digunakan untuk kepuasan pribadi. Namun sejak 2021, Slamet mulai menerima permintaan penyewaan untuk berbagai acara masyarakat.

Khusus di bulan Agustus tahun ini, ia mengaku telah mendapat empat pesanan dari sejumlah desa di Jombang yang ingin menghidupkan suasana nostalgia lewat pemutaran film lawas.

“Biasanya ramai saat ada hajatan, pentas seni desa, atau peringatan HUT RI. Kalau di sekitar Ngoro tarifnya mulai 800 ribu, tapi kalau ke luar wilayah bisa satu juta lebih. Itu sudah termasuk tiga judul film dan sound system,” jelasnya.

Irwasum Polri Tinjau Bazar Murah di Malang, Beras dan Minyak Jadi Buruan Warga

Film bergenre perjuangan menjadi favorit saat momen 17-an. Judul-judul seperti Pasukan Berani Mati dan Dara Garuda paling banyak diminta.

Tak hanya film laga, koleksi Slamet juga mencakup genre romantis, komedi, hingga kolosal dari era 70-an hingga awal 2000-an.

Meski dunia hiburan terus bergerak cepat ke arah digital, Slamet tetap optimistis bahwa layar tancap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat.

“Saya berharap layar tancap tidak punah ditelan zaman,” ucapnya penuh harap. Baginya, layar tancap bukan sekadar tontonan, tetapi juga bagian dari kenangan kolektif masyarakat desa yang patut dirawat dan dihidupkan kembali. (ag)

Editor: Shadinta Aulia Sanjaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *