Batu, LINGKARWILIS.COM – Matahari baru saja muncul dari balik Gunung Panderman ketika jalan setapak di kawasan Puthuk Tritih, Desa Sumberejo, Kecamatan Batu, mulai dipenuhi langkah-langkah ringan para pengunjung.
Udara pagi yang sejuk berpadu dengan aroma tanah basah khas pedesaan membuat siapa pun betah berlama-lama. Sebagian orang memilih jogging, sebagian lain berjalan santai sambil bercengkerama dengan teman atau keluarga.
Di sisi jalan, pedagang kaki lima mulai membuka lapak. Kopi panas, teh hangat, hingga jajanan sederhana seperti sempol, telur gulung, dan gorengan tersaji dengan harga ramah kantong.
Puthuk Tritih tidak menawarkan kemewahan kafe, melainkan suasana kuliner khas desa dengan latar pegunungan yang menyejukkan mata.
Harga Jagung Naik Lagi, Minggu Ini Tembus Rp 6.500 Per Kilogram
“Setiap minggu kalau libur, saya biasanya ke sini. Tempatnya pas banget untuk jogging sekalian cari sarapan,” tutur Jannatin Alfafa, pengunjung asal Pujon, Kabupaten Malang.
Menjelang sore hari, suasana Puthuk Tritih berubah. Sejak pukul 16.00 WIB, kawasan ini dipenuhi kaum muda yang datang sekadar untuk nyore. Duduk santai di tepian jalan, mereka menikmati minuman hangat sambil menatap langit sore yang perlahan berubah warna. Hiruk-pikuk kota terasa menjauh, berganti dengan suasana syahdu khas pedesaan.
HUT ke-80 TNI, Pangdam V/Brawijaya Ziarah ke Makam Gus Dur dan Masyayikh Tebuireng
Hal yang membuat Puthuk Tritih semakin istimewa adalah aksesnya yang gratis. Tidak ada tiket masuk, tidak ada pula biaya parkir resmi. Pengunjung hanya perlu menyiapkan uang untuk membeli jajanan sederhana dari pedagang sekitar. Meski begitu, tetap ada catatan penting: berhati-hati ketika berada di jalur ini, sebab jalan masih aktif digunakan para petani untuk menuju sawah.
Kini, bagi warga Batu dan sekitarnya, Puthuk Tritih tidak lagi sekadar jalan desa biasa. Ia telah menjelma menjadi ruang publik alami: tempat olahraga, tempat bercengkerama, hingga lokasi berburu kuliner ringan. Sebuah spot sederhana yang menawarkan kebahagiaan tanpa dibuat-buat—surga kecil di tengah sawah.
Reporter: Arief Juli Prabowo
Editor: Ahmad Bayu Giandika





