Sambang Santri di Lirboyo, Jawaban Hangat atas Isu Negatif Perbudakan Pesantren

Sambang Santri di Lirboyo, Jawaban Hangat atas Isu Negatif Perbudakan Pesantren
Suasana sambangan santri di Ponpes Al Mahrusiyah Lirboyo (Jamjami)

KEDIRI, LINGKARWILIS.COM – Suasana haru dan penuh kehangatan menyelimuti kegiatan sambang santri di Pondok Pesantren Al Mahrusiyah, Lirboyo, Kota Kediri, yang berlangsung sepanjang Oktober 2025.

Ribuan santri bertemu keluarga dalam momen yang sarat emosi, di tengah maraknya perbincangan publik soal tudingan miring terhadap dunia pesantren yang sempat mencuat secara nasional.

bayar PBB Kota Kediri bayar PBB Kota Kediri

Sebelumnya, sebuah tayangan di salah satu stasiun televisi nasional memicu polemik setelah menampilkan narasi yang mengaitkan kehidupan pesantren dengan praktik “perbudakan”. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan hal sebalikny, kehidupan santri justru sarat nilai keikhlasan, kedisiplinan, dan penghormatan terhadap guru.

Heru, wali santri asal Surabaya, menilai aktivitas yang disalahpahami sebagai bentuk eksploitasi sejatinya merupakan tradisi khidmat, wujud penghormatan santri kepada kiai.

Baca juga : Ribuan Alumni Santri Lirboyo Gelar Long March untuk Menemui Bupati Kediri, Ini Agendanya

“Itu bukan perbudakan. Justru bagian dari pendidikan adab. Anak kami belajar menghormati guru dan menjalani bakti dengan ikhlas. Kami bangga jika mereka bisa berkhidmat,” ujarnya sambil menunggu putranya di kompleks pondok, Selasa (21/10)

Ia menambahkan, pendidikan di pesantren tidak hanya menekankan ilmu, tetapi juga keberkahan melalui adab.

“Tanpa adab, ilmu tidak akan berkah. Semua dilakukan dengan sukarela, bukan karena paksaan,” tegasnya.

Sementara itu, Siti Rahma, wali santri asal Blitar, menilai bahwa pihak luar kerap gagal memahami nilai luhur yang tumbuh di pesantren.

“Saya melihat banyak perubahan baik pada anak saya. Ia menjadi lebih disiplin, mandiri, dan sopan. Kalau santri ikut membantu pembangunan pondok, itu bukan kerja paksa, tapi bagian dari amal jariyah dan gotong royong,” tuturnya.

Baca juga : Polres Blitar Siapkan 65 Personel untuk Operasi Sikat Semeru 2025, Gelar Latihan Pra Operasi di Rupatama

Menurutnya, pola kehidupan di pesantren justru membentuk karakter tangguh dan kemandirian spiritual yang jarang ditemukan di lingkungan lain.

Kontroversi tentang “perbudakan” di pesantren mencuat sejak awal Oktober 2025, ketika salah satu program televisi menayangkan laporan yang dinilai menyinggung martabat kiai dan menyelewengkan makna khidmat.

Menanggapi hal itu, Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) dan pihak pengasuh pesantren menegaskan tidak ada praktik perbudakan. Keterlibatan santri dalam kegiatan pondok, termasuk pembangunan, dilakukan atas dasar keikhlasan dan semangat kebersamaan.

Momen sambang santri di Al Mahrusiyah menjadi bukti nyata dari hubungan erat antara santri, keluarga, dan para kiai—bahwa kehidupan di pesantren berlandaskan pengabdian, kasih sayang, dan nilai-nilai luhur pendidikan Islam, jauh dari citra negatif yang sempat beredar.***

Reporter  : Islakhul Jamjami

Editor : Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *