Kediri, LINGKARWILIS.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri menanggapi serius peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi curah hujan ekstrem yang diperkirakan terjadi mulai November 2025 hingga Februari 2026.
Wilayah Kabupaten Kediri diketahui termasuk kawasan rawan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, hujan deras, dan angin puting beliung.
Kepala BPBD Kabupaten Kediri, Stefanus Joko Sukrisno, mengatakan bahwa pihaknya telah memperketat pemantauan di sejumlah wilayah rawan bencana. Langkah yang dilakukan antara lain patroli pohon rawan tumbang serta pemantauan kondisi tanggul sungai yang berpotensi jebol saat debit air meningkat.
“Diperkirakan intensitas hujan akan sangat tinggi dan bisa berlangsung berjam-jam. Kami imbau masyarakat, terutama yang beraktivitas di jalan raya, agar berhati-hati karena kondisi jalan akan licin. Tetap waspada dan cermati perubahan cuaca hingga Februari 2026,” ujar Joko, Senin (3/11/2025).
Baca juga : DLH Jatim Apresiasi Ponpes Wali Barokah Kediri atas Inovasi Ramah Lingkungan
Ia juga menegaskan pentingnya kewaspadaan bagi warga yang tinggal di lereng dan kaki Gunung Wilis, karena daerah tersebut tergolong rawan longsor. Jika hujan turun lebih dari tiga jam dan terlihat tanda-tanda pergerakan tanah, warga diminta segera mengungsi ke tempat yang aman.
“Keselamatan diri dan keluarga harus menjadi prioritas. Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) kami minta aktif memberikan edukasi kepada masyarakat untuk mengurangi risiko bencana,” tambahnya.
Lebih lanjut, BPBD terus berkoordinasi dengan TNI, Polri, Forkompimca, serta lintas instansi di Pemkab Kediri guna memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dan mempercepat respons jika terjadi bencana.
Baca juga : Memasuki Musim Hujan, DKPP Kabupaten Kediri Imbau Peternak Jaga Kesehatan Ternak
“Koordinasi cepat sangat penting agar penanganan bencana bisa dilakukan segera dan tidak menimbulkan korban,” pungkas Joko.***
Reporter: Bakti Wijayanto
Editor : Hadiyin





