Jombang, LINGKARWILIS.COM – Di tepi Jalan KH Wahab Chasbullah, Dusun Ngledok, Desa Mojokrapak, berdiri sebuah warung sederhana di bawah naungan pepohonan. Meski tampil tanpa ornamen mewah, tempat ini tak pernah sepi dari pengunjung yang ingin menikmati segelas dawet tradisional dengan cita rasa klasik yang tetap terjaga sejak puluhan tahun lalu.
Warung itu dikenal dengan nama Dawet Legend Ngledok, minuman warisan keluarga yang telah ada sejak era 1950-an dan bertahan hingga sekarang.
“Aslinya sudah lama, sejak era nenek moyang. Perkiraan sudah ada sejak tahun 1950-an atau mungkin sebelumnya,” tutur Sumarjoko, generasi ketiga penerus usaha tersebut, Sabtu (21/11).
Berbeda dari banyak dawet modern yang menggunakan tepung tapioka, Dawet Ngledok mempertahankan resep tradisional dengan bahan dasar tepung beras. Teksturnya lembut dan kenyal, disajikan bersama kuah gula Jawa pekat berwarna hitam yang telah menjadi ciri khas sejak dulu.
Baca juga : Dishub Kabupaten Kediri Pasang Dua Traffic Light Baru di Pagu dan Pare
“Yang membedakan itu gulanya. Kami pakai gula Jawa asli. Warnanya hitam, bukan cokelat seperti kebanyakan. Kalau nggak hitam, kurang pas dipadukan dengan dawet,” jelasnya.
Satu gelas dawet berisi dawet beras, gula Jawa hitam, mutiara, hongkoe, bubur, dan santan. Perpaduan itu menghasilkan rasa manis legit namun tetap menyegarkan. Banyak pembeli mengakui bahwa gulanya tidak membuat batuk sehingga aman dinikmati semua kalangan.
Menariknya, meski hujan turun, penjualan tetap stabil.
“Musim hujan tetap laku. Ya memang tidak seramai musim kemarau, tapi pembeli tetap ada,” ungkap Sumarjoko.
Dyah Arum, salah satu pelanggan loyal, menyebut rasa Dawet Ngledok tidak pernah berubah.
“Dawetnya masih asli, tetap pakai tepung beras. Ada hongkoe, bubur sum-sum, dan gulanya gula Jawa murni. Seger dan nggak bikin batuk,” katanya.
Menurut Dyah, dawet ini cocok diminum kapan saja.
“Setelah aktivitas, minum ini cocok banget. Panas atau hujan tetap enak,” imbuhnya.
Dengan harga Rp5.000 per gelas, Dawet Ngledok menjadi pilihan warga untuk menikmati minuman segar tanpa harus merogoh kantong dalam-dalam. Warung ini juga menyediakan aneka jajanan tradisional seperti gorengan, kue kucur, lempung, hingga bermacam kue pasar.
Warung buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga sekitar 16.00–17.00. Meski sederhana, Dawet Ngledok tetap menjadi bukti bahwa kuliner tradisional mampu bertahan lintas generasi dan perubahan zaman.
Bagi banyak orang, dawet ini bukan sekadar minuman, melainkan jejak kenangan dan warisan keluarga yang terus hidup dari masa ke masa.***
Reporter : Agung Pamungkas
Editor : Hadiyin





