Jombang, LINGKARWILIS.COM – Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram atau yang dikenal sebagai elpiji melon, disertai lonjakan harga, mendorong warga di Kabupaten Jombang mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan memasak sehari-hari. Salah satunya dengan kembali menggunakan kayu bakar.
Kondisi ini terjadi di Desa Dukuharum, Kecamatan Megaluh. Dalam kurun sekitar 10 hari terakhir, warga mengaku kesulitan memperoleh elpiji bersubsidi di sejumlah warung maupun pengecer.
Kalaupun tersedia, harga jualnya mengalami kenaikan. Dari harga normal sekitar Rp20 ribu per tabung, kini elpiji dijual di kisaran Rp23 ribu hingga Rp25 ribu, tergantung lokasi dan penjual.
Baca juga : Kunker ke Mapolsek Papar, Kapolres Kediri Tekankan Peningkatan Pelayanan Publik
Hexa Budi Astuti, salah satu warga, mengaku memilih kembali menggunakan tungku tradisional karena dinilai lebih pasti untuk memenuhi kebutuhan dapur.
“Kalau memang harus naik, lebih baik harganya jelas. Yang penting barangnya ada, tidak langka seperti sekarang,” ujarnya, Rabu (14/4/2026).
Menurutnya, kelangkaan justru lebih menyulitkan dibandingkan kenaikan harga. Selama elpiji masih tersedia, masyarakat dinilai masih bisa menyesuaikan kondisi ekonomi.
Ia juga menyebut harga elpiji di lapangan tidak seragam dan cenderung fluktuatif. Hal ini semakin menyulitkan masyarakat kecil dalam mengatur pengeluaran.
Baca juga : SPMB 2026 Dibuka Mei, Disdik Kediri Minta Orang Tua Utamakan Sekolah Terdekat
Peralihan ke kayu bakar menjadi potret nyata dampak kelangkaan elpiji di tingkat rumah tangga. Warga berharap distribusi gas bersubsidi segera kembali normal agar aktivitas sehari-hari tidak terganggu.***
Reporter : Agung Pamungkas
Editor : Hadiyin





