Harga Pakan Naik, Pelaku Usaha Lele Jombang Bertahan Lewat Kolaborasi dan Program MBG

Harga Pakan Naik, Petani Lele Jombang Bertahan Lewat Kolaborasi dan Program MBG
Heri Purnomo, pembudidaya lele asal Desa Temuwulan, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang saat ditemui dikediamannya, Kamis (21/5/2026). (istimewa)

Jombang, LINGKARWILIS.COM – Pelaku usaha budidaya ikan air tawar di Kabupaten Jombang mulai merasakan dampak gejolak ekonomi global. Kenaikan harga pakan hingga biaya distribusi menjadi tantangan utama yang kini dihadapi para petani lele, termasuk Heri Purnomo, warga Desa Temuwulan, Kecamatan Perak.

Meski menghadapi tekanan biaya produksi, para pembudidaya ikan di Kota Santri tetap berusaha bertahan melalui semangat gotong royong yang dibangun dalam komunitas Petani Ikan Air Tawar Nusantara (Pekantara).

bayar PBB Kota Kediri

“Awalnya hanya sekitar 20 pembudidaya, sekarang berkembang menjadi sekitar 300 anggota,” ujar Heri, Kamis (21/5/2026).

Ia menjelaskan, para anggota Pekantara saat ini mengelola kurang lebih 1.000 kolam budidaya dengan ukuran rata-rata 3×6 meter hingga 3×7 meter. Dari jumlah tersebut, produksi ikan lele mencapai sekitar 3 hingga 4 ton per hari.

Namun demikian, kondisi ekonomi global mulai berdampak terhadap usaha mereka, terutama akibat kenaikan harga pakan pabrikan yang disebut dipicu konflik di kawasan Timur Tengah.

Baca juga : Bertemu PSF, Mas Dhito Bahas Masa Depan Lulusan Perdana SMA Boarding School Gratis di Kediri

“Beberapa bulan terakhir harga pakan naik sekitar Rp250 per kilogram. Belum sampai merugi, tapi keuntungan mulai menipis,” jelasnya.

Selain harga pakan, biaya distribusi ikan ke sejumlah pasar di Jawa Timur juga meningkat akibat persoalan ketersediaan bahan bakar minyak.

“Kalau biosolar tersedia kami gunakan itu, tapi saat kosong terpaksa membeli BBM non-subsidi sehingga ongkos kirim ikut naik,” tambahnya.

Di tengah tantangan tersebut, program Makan Bergizi Gratis (MBG) justru menjadi peluang baru bagi para petani lele. Program tersebut dinilai membuka pasar baru yang cukup besar bagi hasil budidaya ikan air tawar.

Menurut Heri, satu dapur MBG dapat membutuhkan pasokan lele sekitar 1,5 hingga 2 kuintal setiap minggu. Sejak awal 2026, permintaan ikan lele disebut mengalami peningkatan cukup signifikan.

Baca juga : Kantor Imigrasi Kediri Sosialisasikan APOA, Tingkatkan Peran Pengelola Hotel dalam Pengawasan Orang Asing

“Permintaan naik sejak adanya program MBG. Bahkan kebutuhan pasar saat ini masih kurang sekitar 20 sampai 30 persen,” ungkapnya.

Meningkatnya permintaan membuat sejumlah anggota Pekantara mulai menambah jumlah kolam budidaya serta mengembangkan pakan alternatif guna menekan biaya produksi dan mengurangi ketergantungan terhadap pakan pabrikan.

“Meskipun ekonomi global sedang sulit, selama air masih ada dan pembudidaya tetap bergerak, usaha ini akan terus berjalan. Kuncinya efisiensi dan kolaborasi,” pungkas Heri.***

Reporter : Taufiq Rachman

Editor : Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *