KEDIRI, LINGKARWILIS.COM — Di tengah pergeseran konsumsi informasi ke platform digital, Ayik Sulaiman, warga Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, tetap memilih bertahan menekuni profesi sebagai penjual koran di persimpangan jalan di Kota Kediri.
Sejak 2014, Ayik sosok pekerja keras ini rutin menjajakan surat kabar harian Koran Memo, satu-satunya koran yang ia pasarkan di sejumlah titik lalu lintas, salah satunya Perempatan Ringin Sirah atau yang dikenal masyarakat sebagai Perempatan Golden.
Setiap hari, ia menyapa pengendara yang berhenti di lampu merah, menawarkan koran seharga Rp7.000 per eksemplar.
Di balik rutinitas sederhana itu, tersimpan perjalanan hidup yang penuh lika-liku. Ayik mengaku, sebelum menjadi loper koran, ia sempat menjalani kehidupan yang kelam. Ia mengaku pernah jadi preman hingga pengamen jalanan yang hidup tanpa arah dan kepastian.
“Dulu keseharian saya di jalan, bertahan dalam kehidupan yang kejam dan tanpa nilai. Sampai akhirnya bertemu dengan salah satu manajer pemasaran Koran Memo, yang biasa saya panggil Pak Bidu. Dari dia saya banyak mendapat arahan dan didikan disiplin. Pola hidup dan cara berpikir saya berubah menjadi lebih positif,” ungkap Ayik yang mengaku tidak pernah punya cita-cita.
Proses pembinaan tersebut perlahan membentuk kedisiplinan dan tanggung jawab dalam dirinya. Ia pun meninggalkan dunia jalanan dan memilih menapaki jalan hidup yang lebih teratur sebagai loper koran.
“Sekarang saya bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga besar Koran Memo. Meski tugas saya sederhana, saya bangga menjalani pekerjaan ini,” ujar pria bertato ini.
Dalam terik matahari maupun hujan ringan, Ayik tetap berdiri di persimpangan jalan. Baginya, setiap koran yang terjual bukan sekadar sumber penghasilan, melainkan simbol perubahan hidup dan harga diri.
Baca juga : DLHKP Kota Kediri Lakukan Pemangkasan Pohon Besar di Jalan Mauni demi Keselamatan Warga
Kisah Ayik menjadi gambaran nyata bahwa ketekunan, kemauan belajar, dan keberanian mengubah diri mampu membuka jalan menuju kehidupan yang lebih bermartabat, meski dimulai dari langkah paling sederhana.***
Reporter : Agus Sulistyo
Editor : Hadiyin





