TULUNGAGUNG, LINGKARWILIS.COM — Cedera berat yang dialami Firman Nugraha, gelandang Perseta 1970 Tulungagung, memicu reaksi keras dari manajemen klub. Ketiadaan permintaan maaf resmi dari manajemen PS Putra Jaya Pasuruan membuat Perseta 1970 mempertimbangkan langkah hukum atas insiden tersebut.
Manajer Perseta 1970 Tulungagung, Rudi Iswahyudi, menyampaikan bahwa tindakan tendangan keras yang dilakukan pemain PS Putra Jaya Pasuruan, Hilmi Gimnastiar, terhadap Firman Nugraha dinilai sudah melampaui batas kewajaran dalam pertandingan sepak bola. Hingga kini, kata Rudi, tidak ada itikad baik berupa permohonan maaf resmi dari pihak lawan.
“Kami sangat menyayangkan sikap tersebut. Sampai hari ini tidak ada permintaan maaf secara resmi, padahal akibat insiden itu pemain kami mengalami cedera serius,” ujar Rudi, Rabu (7/1/2026).
Rudi mengungkapkan, sebelum insiden tendangan keras ke arah dada Firman, pemain PS Putra Jaya Pasuruan juga sempat melakukan pelanggaran lain berupa sikutan. Akibatnya, pemain Perseta 1970 mengalami pendarahan dari hidung.
“Sebelum tendangan itu terjadi, ada penyikutan keras yang membuat pemain kami berdarah. Puncaknya adalah tendangan yang menyebabkan cedera parah,” jelasnya.
Pasca kejadian, manajemen Perseta 1970 menggelar rapat internal untuk membahas langkah lanjutan. Dari hasil pembahasan tersebut, manajemen sepakat membawa kasus ini ke ranah hukum guna memberikan efek jera.
Keputusan tersebut diambil setelah dilakukan analisis terhadap tayangan ulang pertandingan. Menurut Rudi, dari rekaman video terlihat adanya indikasi kesengajaan, termasuk gerakan persiapan menendang serta sikap provokatif pelaku setelah diganjar kartu merah.
Baca juga : Harga Cabai di Pasar Grosir Ngronggo Kediri Turun Rp 3.000 per Kilogram
“Ini sudah keluar dari konteks olahraga. Ada indikasi kuat unsur kesengajaan, meski motif pastinya belum kami ketahui,” tegasnya.
Rudi menambahkan, selama ini kasus kekerasan dalam sepak bola kerap hanya diselesaikan melalui sidang Komisi Disiplin. Namun, sanksi tersebut dinilai belum cukup memberikan efek jera, sehingga insiden serupa terus berulang, bahkan hingga memakan korban.
Melalui jalur hukum, pihaknya berharap ada pembelajaran bagi seluruh insan sepak bola agar menjunjung tinggi sportivitas dan keselamatan pemain di atas segalanya.
“Ini menjadi pelajaran untuk semua pihak. Tidak hanya untuk tim lawan, tetapi juga bagi pemain kami sendiri agar selalu menjaga sportivitas dalam pertandingan,” pungkasnya.***
Reporter : Sholeh Sirri
Editor : Hadiyin





