PONOROGO, LINGKARWILIS.COM – Menjelang Hari Raya Idulfitri, sejumlah pengrajin sekaligus tukang servis bedug di Kabupaten Ponorogo mulai kebanjiran pesanan. Bedug yang menjadi penanda waktu salat tersebut juga lazim digunakan dalam tradisi malam takbiran di masjid maupun musala.
Salah satu pengrajin yang merasakan peningkatan pesanan adalah Pamujo, warga Kelurahan Kertosari, Kecamatan Babadan. Pria kelahiran 1948 itu telah lama dikenal sebagai tukang servis bedug yang kerap menerima perbaikan dari berbagai masjid dan musala.
Memasuki bulan Ramadan hingga mendekati Lebaran, rumahnya dipenuhi bedug yang menunggu giliran diperbaiki. Bedug-bedug tersebut didatangkan dari sejumlah wilayah di Ponorogo agar kembali menghasilkan suara nyaring saat ditabuh pada malam takbiran.
Pamujo mengaku mulai menekuni pekerjaan tersebut sejak 2008. Sebelumnya, ia bekerja sebagai tukang kayu. Namun karena pesanan pekerjaan kayu semakin berkurang, ia mencoba memperbaiki bedug milik masjid di sekitar tempat tinggalnya.
“Awalnya saya tukang kayu. Karena pekerjaan mulai sepi, saya coba memperbaiki bedug. Lama-lama banyak yang datang untuk servis,” ungkapnya.
Seiring berjalannya waktu, keahliannya memperbaiki bedug semakin dikenal masyarakat. Pesanan pun tidak hanya datang dari wilayah Babadan, tetapi juga dari sejumlah kecamatan lain di Ponorogo.
Menurut Pamujo, kerusakan yang paling sering ditemukan berada pada bagian kulit bedug yang menipis atau robek. Kondisi tersebut umumnya terjadi karena bedug dipukul terlalu keras saat digunakan.
“Kebanyakan rusaknya di bagian kulit. Kalau sudah tipis atau robek biasanya harus diganti supaya suaranya bagus lagi,” jelasnya.
Untuk biaya perbaikan, ia menyesuaikan dengan tingkat kerusakan. Jika hanya melakukan servis pada satu sisi bedug, biaya jasa sekitar Rp300 ribu. Namun jika harus mengganti kulit bedug, biayanya bisa mencapai sekitar Rp900 ribu.
Baca juga : Sidang Ketujuh Sengketa TPA Kota Kediri Berakhir, Hari Ini Masuk Tahap Mediasi
“Kalau servis satu sisi sekitar Rp300 ribu. Kalau ganti kulit bisa sampai Rp900 ribu. Kalau kanan kiri ya bisa lebih,” katanya.
Selama hampir dua dekade menekuni profesi tersebut, Pamujo mengaku telah memperbaiki ratusan bedug milik masjid maupun musala dari berbagai daerah di Ponorogo.
“Sejak 2008 sudah ada ratusan bedug yang saya servis,” tuturnya.
Meski usianya kini menginjak 78 tahun, Pamujo masih tetap menjalankan pekerjaannya. Namun untuk pekerjaan yang membutuhkan tenaga lebih besar, seperti memasang kulit sapi pada bedug, ia kini dibantu oleh anaknya.
“Kalau memasang kulit memang butuh tenaga besar, jadi sekarang dibantu anak,” pungkasnya.***
Reporter : Sony Prasetyp
Editor : Hdiyin






