PONOROGO, LINGKARWILIS.COM β Memasuki musim kemarau, jumlah kejadian kebakaran di Kabupaten Ponorogo mengalami peningkatan. Hingga pertengahan Juli 2026, Satpol PP dan Damkar Ponorogo telah menangani 18 kasus kebakaran, yang sebagian besar merupakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta rumpun bambu.
Kepala Bidang Damkar dan Penyelamatan Satpol PP dan Damkar Ponorogo, Bambang Supeno, mengatakan dari total 18 kejadian tersebut, 10 kasus di antaranya merupakan kebakaran hutan, lahan, dan rumpun bambu.
“Jumlah ini melonjak tajam dibanding Juni lalu, yang dalam sebulan terjadi 12 laporan kebakaran,” ujar Bambang.
Menurutnya, kondisi cuaca yang kering selama musim kemarau membuat vegetasi menjadi lebih mudah terbakar. Situasi tersebut diperparah dengan embusan angin yang menyebabkan api cepat merambat ke area yang lebih luas.
Baca juga :Β Polres Kediri Ungkap Kasus Curanmor hingga Pembakaran Rumah, Tiga Tersangka Diamankan
Sepanjang tahun 2026, Damkar Ponorogo telah menangani 53 kejadian kebakaran dengan berbagai objek.
Dari jumlah tersebut, kebakaran rumpun bambu menjadi yang paling dominan dengan persentase mencapai 30,2 persen.
“Mayoritas masih didominasi oleh rumpun bambu,” imbuh Bambang.
Bambang menjelaskan, sebagian besar kebakaran dipicu oleh aktivitas masyarakat yang membakar sampah atau daun kering, kemudian meninggalkan api tanpa pengawasan.
Akibat kondisi vegetasi yang sangat kering, api dengan mudah merembet ke lahan di sekitarnya.
“Rata-rata karena pembakaran sampah atau daun kering yang ditinggal. Api kemudian merembet karena kondisi vegetasi sangat kering dan angin cukup kencang,” jelasnya.
Baca juga :Β Dinas Perikanan Kabupaten Kediri Imbau Pembudidaya Waspadai Kesehatan Ikan Saat Musim Kemarau
Damkar Ponorogo memprediksi risiko kebakaran akan semakin tinggi pada Agustus hingga September, seiring puncak musim kemarau yang membuat lahan semakin kering.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, tidak meninggalkan api tanpa pengawasan, serta tidak membuang puntung rokok sembarangan, terutama di kawasan yang dipenuhi rumput atau vegetasi kering.
“Warga kami imbau untuk berhati-hati, apalagi saat meninggalkan perapian atau puntung rokok jangan dibuang sembarangan,” pungkas Bambang.***
Reporter: Sony Dwi Prastyo
Editor: Hadiyin





