Kediri, LINGKARWILIS.COM – Tangis haru pecah saat pengukuhan Paskibraka Kabupaten Kediri 2026 di Pendopo Panjalu Jayati, Kamis (13/8). Di tengah suasana bahagia para anggota Paskibraka yang didampingi orang tua, seorang siswa justru harus menjalani momen tersebut tanpa kehadiran kedua orang tuanya.
Siswa tersebut adalah Rasya Zakhina Akbar (17), siswa kelas XI SMK Pembangunan Kandangan. Dengan tinggi badan 177 sentimeter, Rasya terlihat tegar mengikuti prosesi pengukuhan. Namun, air matanya tak terbendung ketika melihat teman-temannya didampingi orang tua masing-masing.
Rasya hanya didampingi Kepala SMK Pembangunan Kandangan. Tangisnya pecah lantaran kedua orang tua kandungnya telah meninggal dunia sejak dirinya masih kecil.
Ibu kandung Rasya meninggal ketika dirinya masih duduk di TK nol kecil. Sementara sang ayah meninggal saat Rasya duduk di kelas III SD.
Baca juga : DPRD Kabupaten Kediri Gelar Paripurna Dengarkan Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo
“Kedua orang tua saya sudah tidak ada saat saya masih kecil. Saya bersekolah di SMK Pembangunan Kandangan. Saya sendiri saat pengukuhan ini,” kata Rasya.
Melihat kondisi tersebut, sejumlah senior Rasya yang sebelumnya pernah menjadi anggota Paskibraka berusaha menenangkan dan menguatkannya. Mereka memberikan dukungan agar Rasya tetap tegar, percaya diri, serta mampu menjalankan tugas sebagai anggota Paskibraka dengan baik.
Dukungan tersebut membuat Rasya tidak merasa sendirian dalam menjalani momen penting tersebut. Perjalanan hidup yang tidak mudah justru menjadi pengalaman yang membentuknya menjadi pribadi yang lebih kuat dan mandiri.
Sementara itu, Kepala SMK Pembangunan Kandangan Hari Susanto memberikan apresiasi atas pencapaian anak didiknya tersebut. Menurutnya, Rasya telah menunjukkan keteguhan dan kemandirian yang dapat menjadi teladan bagi siswa lainnya.
Baca juga : Isak Tangis Warnai Pertemuan Paskibraka Kabupaten Kediri dengan Orang Tua
“Saat ini Rasya tumbuh sebagai pribadi yang kuat, mandiri dan percaya diri setelah digembleng di Paskibraka. Kita berharap Rasya sukses saat pengibaran bendera merah putih di detik-detik Proklamasi HUT ke-81 RI di Stadion Chanda Bhirawa Pare,” ujarnya.
Hari berharap keberhasilan Rasya dapat menjadi inspirasi bagi siswa lain di SMK Pembangunan Kandangan. Ia juga berharap ke depan muncul lebih banyak siswa berprestasi yang mampu membawa nama baik sekolah.
Bagi Rasya, pengukuhan tersebut bukan sekadar seremoni. Di balik tangis yang mengiringinya, terdapat perjuangan panjang seorang anak yang tumbuh tanpa kedua orang tua, tetapi mampu berdiri tegak dan membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk mengukir prestasi.***
Reporter : Bakti Wijayanto
Editor : Hadiyin





