Dam Baduk Nganjuk Dipenuhi Eceng Gondok, Pemancing Keluhkan Sulit Cari Ikan

Dam Baduk Nganjuk Dipenuhi Eceng Gondok, Pemancing Keluhkan Sulit Cari Ikan
Penyebaran gulma Enceng Gondok di perairan Dam Baduk Malangsari membuat area memancing menyempit. (foto: Muji Hartono)

Nganjuk, LINGKARWILIS.COM – Aktivitas para pencari ikan di kawasan Bendungan Kedungrejo atau yang lebih dikenal sebagai Dam Baduk, Desa Malangsari, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, belakangan ini mengalami penurunan.

Kondisi tersebut dipicu oleh hamparan eceng gondok yang memenuhi aliran Sungai Kedungrejo, khususnya mulai dari sisi selatan Dam Baduk hingga ke bawah Jembatan Malangsari.

Padahal, kawasan tersebut selama ini dikenal para pemancing sebagai salah satu lokasi yang cukup banyak ikannya. Namun, pertumbuhan eceng gondok yang semakin meluas membuat pemancing kesulitan mendapatkan titik untuk melempar dan menempatkan mata kail.

Andik, pemancing asal Jatirejo, Nganjuk, mengatakan dirinya biasanya memancing di kawasan barat Serenade Hall Baduk Karaoke. Menurutnya, wilayah selatan Dam Baduk memang sudah dikenal sebagai lokasi yang banyak ikan.

Baca juga : Kapolres Kediri Hadiri Pemakaman Korban KM Virgo Transport 8 di Puncu

“Biasanya saya mancing di barat Serenade Hall Baduk Karaoke, area selatan Dam Baduk ini terkenal banyak ikan,” sebut Andik, Minggu (27/9/2026) pagi.

Namun, kondisi tersebut kini berubah. Hamparan eceng gondok membuat ruang untuk memancing semakin terbatas. Upaya mencari lokasi lain ke arah selatan juga belum membuahkan hasil.

“Area ini sekarang dipenuhi Enceng Gondok, bikin kita susah menempatkan mata kail. Aku coba agak ke selatan malah gak dapat ikan,” gerutunya.

Keluhan serupa disampaikan Mamat, warga Desa Jati, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri. Pria berusia 30 tahun tersebut mengaku cukup sering datang ke Dam Baduk untuk memancing, terutama pada malam hari.

Menurutnya, keberadaan eceng gondok membuat pemancing kesulitan menentukan titik yang tepat untuk memasukkan mata kail ke perairan.

“Mancing di Dam Baduk itu asyik. Apalagi dekat Serenade Hall Baduk Karaoke, bisa adem ayem lihat orang berkaraoke,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap pihak yang berwenang segera melakukan penanganan terhadap tanaman air tersebut agar aktivitas pemancing kembali berjalan.

“Kami minta kepada yang berwenang di Dam Baduk ini agar menghilangkan Enceng Gondok ini, agar ramai lagi para pemancing ikan,” pintanya.

Eceng gondok bukan merupakan tanaman asli Indonesia. Tanaman dengan nama latin Eichhornia crassipes tersebut berasal dari kawasan Lembah Sungai Amazon, Brasil.

Sekitar tahun 1894, eceng gondok dibawa ke Kebun Raya Bogor sebagai tanaman hias koleksi karena memiliki bunga berwarna ungu yang menarik.

Dari kolam buatan tersebut, tanaman kemudian menyebar ke Sungai Ciliwung. Selanjutnya, eceng gondok berkembang ke berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Penyebarannya yang cepat di perairan didukung kemampuan biologis tanaman tersebut untuk berkembang biak secara vegetatif maupun generatif.

Secara vegetatif, eceng gondok dapat berkembang melalui stolon yang terlepas dan tumbuh menjadi tanaman baru. Sementara secara generatif, tanaman ini berkembang melalui biji.

Pertumbuhannya yang cepat membuat eceng gondok berpotensi menutupi permukaan perairan dalam waktu relatif singkat. Potongan tanaman yang terbawa arus sungai, banjir maupun perahu juga dapat menjadi awal terbentuknya koloni baru.

Di Thailand, tanaman ini bahkan dikenal dengan sebutan Phak Tok Chawa atau sampah dari Jawa. Penyebaran ke Thailand disebut terjadi setelah Raja Chulalongkorn membawanya dari Jawa sebagai suvenir pada 1871.***

Editor: Muji Hartono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *