Nganjuk, LINGKARWILIS.COM – Petani di Dusun Codot, Desa Kepanjen, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, mengeluhkan pasokan air irigasi dari Dam Baduk yang tidak sampai ke lahan pertanian mereka.
Kondisi tersebut membuat petani, yang mayoritas menanam padi pada musim tanam (MT) 3, harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman. Mereka terpaksa menggunakan mesin diesel untuk memompa air ke area persawahan.
Kepala Desa Kepanjen Sugeng Purnomo mengatakan, terdapat sekitar 19 hektare lahan pertanian di Dusun Codot yang tidak mendapatkan aliran air dari Dam Baduk.
“Petani di Dusun Codot mengeluh terkait kurangnya air irigasi untuk mengairi tanaman padi. Terpaksa para petani menggunakan mesin diesel untuk pengairan,” kata Sugeng, Kamis (1/10/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat biaya produksi petani meningkat karena harus membeli solar untuk mengoperasikan mesin diesel. Selain itu, petani juga mulai khawatir tanaman padinya tidak mendapatkan pasokan air yang cukup hingga berpotensi mengalami gagal panen.
Baca juga : Sumber Mata Air Mengering, Propam Polres Nganjuk Salurkan Bantuan Air Bersih
“Jadi para petani harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk beli solar. Ada 19 hektare tanaman padi yang tidak terairi dari Dam Baduk. Petani takutnya gagal panen, kan ini terkait ketahanan pangan,” sambungnya.
Sugeng berharap persoalan tersebut segera mendapatkan solusi sehingga kebutuhan air bagi lahan pertanian di Dusun Codot dapat terpenuhi. Pihak desa, kata dia, juga telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait.
“Semoga ada solusi, dan kami sudah berkoordinasi dengan pihak terkait,” ucapnya.
Sementara itu, Kabid Pengairan Dinas PUPR Kabupaten Nganjuk Rusdi Gunawan mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian untuk mencari solusi atas persoalan tersebut.
Salah satu langkah yang disiapkan yakni melalui program IrPom atau irigasi perpompaan. Program tersebut disebut akan segera direalisasikan dan saat ini masih menunggu aliran listrik.
Baca juga : Wabup Dewi Ajak Generasi Muda Kediri Perkuat Persatuan dan Jiwa Pancasilais
“Tadi kami konfirmasikan ke dinas pertanian, dan solusinya adalah program IrPom atau irigasi perpompaan yang sebentar lagi terealisasi. Tinggal nunggu aliran listrik,” ujar Rusdi saat ditemui di area persawahan Dusun Codot.
Selain program tersebut, Dinas PUPR juga mengusulkan penambahan suplai air menuju Dam Baduk untuk memenuhi kebutuhan irigasi petani selama musim kemarau.
“Kami usulkan suplisi air ke Dam Baduk ditambah,” katanya.
Rusdi menjelaskan, berkurangnya pasokan air tersebut tidak terlepas dari kondisi musim kemarau. Debit Sungai Brantas mengalami penurunan sehingga aliran air yang menuju Sungai Kedungsuko ikut berkurang.
Selain itu, terdapat sejumlah kebocoran maupun sudetan yang tidak berizin dari Dam Combre menuju Dam Baduk. Kondisi tersebut turut memengaruhi volume air yang masuk ke Dam Baduk.
“Ini sangat mempengaruhi irigasi yang menggantungkan Dam Baduk. Karena debit air berkurang jadinya tidak bisa sampai pada saluran sekunder yang ada di Codot,” urainya.
Rusdi menjelaskan, petani di Dusun Codot sebenarnya memiliki jatah aliran air irigasi dari Dam Baduk selama 30 jam. Pasokan tersebut diberikan setiap dua minggu sekali atau setiap hari Rabu untuk kebutuhan pertanian MT 3.
“Setiap dua minggu sekali atau setiap hari Rabu ada jatah 30 jam air irigasi dari Dam Baduk untuk petani di Codot untuk MT 3 palawija, karena banyak sawah ditanami padi, ya kami harus cari solusi lagi,” beber Rusdi.***
Editor: Muji Hartono





