NGANJUK, LINGKARWILIS.COM – Kreator lokal Woko Channel melebarkan kiprahnya ke industri perfilman Indonesia melalui film drama komedi supranatural berjudul Piye To Kih?. Menjelang penayangan perdana, tim produksi menggelar roadshow di Kabupaten Nganjuk, Jumat (30/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Sam’s Studio Nganjuk itu menghadirkan sutradara Ito Mavin bersama sejumlah pemain. Mengusung konsep nonton lebih awal dan meet and greet, mereka berkesempatan menyapa penonton sekaligus menceritakan pengalaman selama proses produksi.
Roadshow tersebut menjadi momen istimewa bagi Heri Chandra atau yang dikenal dengan nama Mukidi. Aktor yang menjadi pemeran utama itu mengaku bangga karena mendapat kesempatan membawa nama daerah kelahirannya, Nganjuk, ke kancah perfilman nasional.
Apalagi, film produksi MIRACLE Pictures tersebut menjadi debut Mukidi sebagai pemeran utama dalam sebuah film layar lebar.
“Sangat bangga sekali, Mas. Bangga sekali bisa mengangkat Nganjuk ke nasional,” ungkap Mukidi.
Baca juga : Polres Nganjuk Bongkar Tiga Kasus Peredaran Sabu, Sita Barang Bukti Seberat 15,65 Gram
Selama menjalani syuting, Mukidi mengaku menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu pengalaman yang cukup unik adalah ketika harus beradu akting dengan sebuah boneka yang dalam cerita menjadi tempat bersemayamnya arwah Sukma, tokoh yang diperankan Dara Sarasvati.
“Gimana ya. Bingung, Mas. Lawan mainnya boneka soalnya. Jadi bisa enggak bisa, harus bisa,” ujarnya yang disambut tawa.
Sementara itu, sutradara Ito Mavin menjelaskan, ide menggarap Piye To Kih? berangkat dari ketertarikannya terhadap potensi para kreator Woko Channel. Ia melihat para pemain memiliki kemampuan akting serta karakter komedi yang kuat dan berpeluang berkembang lebih jauh di industri film.
Ito mengaku telah mengikuti perkembangan Woko Channel sejak lama. Latar belakangnya yang dekat dengan budaya Jawa, termasuk kemampuan berbahasa Jawa karena lahir di Ponorogo, turut mendukung komunikasi selama proses kolaborasi.
Baca juga : BPBD Kabupaten Kediri Rutin Salurkan Air Bersih ke Sejumlah Desa di Puncu dan Kepung
“Saya pribadi melihat potensi dari Woko Channel ini sudah dari lama. Kebetulan saya juga bisa bahasa Jawa karena saya lahir di Ponorogo. Kemudian, suatu ketika saya melihat Woko Channel ini makin lama potensinya sangat besar. Terus kemudian production value-nya menjadi lebih menarik,” jelasnya.
Komunikasi awal dengan Woko Channel dimulai pada awal 2025. Setelah melewati tahap pengembangan cerita dan persiapan produksi, proses pengambilan gambar dilaksanakan pada Oktober 2025.
Ito menyebut proses pengarahan pemain berjalan relatif lancar. Pengalaman mereka membintangi berbagai konten Woko Channel menjadi bekal dalam menjalani peran di film layar lebar.
Dalam penggarapannya, Piye To Kih? tidak hanya menyajikan komedi khas Woko Channel. Ceritanya dikembangkan dengan menggabungkan unsur drama dan supranatural, sekaligus menyisipkan pesan tentang pentingnya mempersiapkan serta memperbaiki diri sebelum mengharapkan sesuatu.
Menurut Ito, seseorang terkadang terlalu fokus mengubah diri demi menjadi sosok yang diinginkan orang lain. Padahal, hal mendasar yang perlu dilakukan adalah membangun kesiapan dan kepantasan diri.
“Ketika kita menginginkan sesuatu, hal pertama yang harus kita lakukan adalah membuat diri kita pantas untuk mendapatkan hal itu,” paparnya.
Cerita film ini berpusat pada Mukidi yang berusaha meyakinkan dirinya siap menikahi Bunga (Gabriella Desta), perempuan yang selama ini dicintainya. Demi menunjukkan kemapanan, Mukidi berupaya membeli rumah sendiri.
Namun, rencana tersebut justru berujung pada berbagai persoalan. Hubungan asmaranya kandas, sementara rumah tua yang dibeli dengan harga murah ternyata menyimpan kisah misterius. Di tempat itulah Mukidi bertemu Sukma, perempuan dari alam berbeda.
Sukma ternyata merupakan arwah yang bersemayam di dalam sebuah boneka. Pertemuan dua sosok dari alam berbeda tersebut memunculkan konflik yang semakin rumit, terutama ketika Mukidi harus menghadapi persoalan cinta, perbedaan keyakinan, dan berbagai kejadian di luar dugaan.
Dalam menghadapi situasi tersebut, Mukidi ditemani dua sahabatnya, Gendut yang diperankan Sutrisno Agung dan Penyok yang dimainkan Eko Dunung. Kehadiran keduanya menambah warna cerita melalui dinamika persahabatan dan berbagai peristiwa jenaka.
Selain Heri Chandra, Dara Sarasvati, Sutrisno Agung, Eko Dunung, dan Gabriella Desta, film ini juga menghadirkan karakter Mbak Mintul serta Pak No.
Nuansa cerita turut diperkuat empat lagu orisinal ciptaan Lek Dahlan yang menjadi original soundtrack (OST). Keempat lagu tersebut berjudul Piye To Kih?, Sigaran Nyowo, Kelangan, dan Gemati.
Film Piye To Kih? dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 19 November 2026. Kehadiran film ini sekaligus menjadi langkah Woko Channel membawa karya kreator daerah dari platform digital menuju layar lebar dan memperluas kesempatan mereka berkarya di industri perfilman nasional.***
Reporter: Inna Dewi Fatimah
Editor : Hadiyin





