Petis Warisan Keluarga Jadi Magnet, Rujak Mbak Wati di Gudo Jombang Bikin Pelanggan Ketagihan

Petis Warisan Keluarga Jadi Magnet, Rujak Mbak Wati di Gudo Jombang Bikin Pelanggan Ketagihan
Mbak Wati atau Marwati (48) pemilik Warung Rujak saat menunjukkan racikan rujak buatannya yang berlokasi dipinggir kali Dusun Krembangan, Desa Krembangan, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Sabtu (3//10/2026) siang.

Jombang, LINGKARWILIS.COM – Aroma petis yang khas langsung menyambut siapa pun yang mampir ke Warung Rujak Mbak Wati di Dusun Krembangan, Desa Krembangan, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang.

Berada di pinggir kali, warung sederhana milik Marwati tersebut hampir tak pernah kehilangan pelanggan. Bahkan, sejumlah pembeli rela menempuh perjalanan dari luar daerah hanya untuk menikmati seporsi rujak dengan bumbu petis racikan keluarga yang diwariskan secara turun-temurun.

Perempuan yang akrab disapa Mbak Wati itu telah menjalankan usaha warung rujaknya sekitar lima tahun. Meski tempatnya sederhana, cita rasa yang ditawarkan membuat warung tersebut dikenal para pencinta kuliner tradisional.

Salah satu yang menjadi pembeda adalah racikan petisnya. Bumbu tersebut menggunakan resep keluarga yang terus dipertahankan hingga sekarang. Cita rasa khas inilah yang menjadi daya tarik utama dan membuat pelanggan datang kembali.

“Petisnya yang khas turun temurun dari keluarga,” ujar Mbak Wati, 48, saat ditemui di warungnya, Sabtu (3/10/2026).

Baca juga : Dinkes Jombang Periksa Siswa SMPN 4, Dampak Bau Limbah Pabrik Ayam Jadi Perhatian

Untuk menikmati rujak racikan Mbak Wati, pembeli tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Rujak biasa dibanderol Rp8 ribu per porsi, sedangkan rujak spesial Rp10 ribu. Selain itu, tersedia pula gado-gado dengan harga Rp10 ribu.

“Harga ramah di kantong, pelanggan bisa pesan rujak atau gado-gado di sini cuma seharga Rp10 ribu saja,” imbuhnya.

Lokasi warung yang berada di pinggir kali rupanya tidak menyurutkan minat pembeli. Dalam kondisi normal, Mbak Wati mampu menjual sekitar 15 hingga 20 porsi rujak hingga sore hari.

Jumlah tersebut bisa meningkat tajam ketika memasuki momen Lebaran. Dalam sehari, penjualan bahkan bisa mencapai sekitar 55 porsi.

“Sehari bisa sampai 15–20 sampai jam 15.00 sore. Kalau momen Lebaran bisa sampai 55 porsi dan buka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga 21.00 WIB malam,” terangnya.

Tak hanya mengandalkan rujak dan gado-gado, warung tersebut juga menawarkan sejumlah menu tradisional lainnya, terutama saat malam hari. Di antaranya lontong sayur dan lontong kecap yang dibanderol Rp8 ribu per porsi.

Untuk teman bersantai dan ngopi, tersedia pula aneka gorengan, botok udang, serta botok tahu tempe.

“Kalau malam ada gorengan, botok udang, serta botok tahu tempe. Menu tradisional ini biasanya jadi daya tarik pelanggan kalau malam ngopi dan ingin menikmati sajian khas pedesaan,” jelasnya.

Baca juga : Mas Dhito Komitmen Atasi Masalah Banjir, Jembatan Cerme Kediri Dibangun dengan Desain Baru

Pelanggan Warung Rujak Mbak Wati ternyata tidak hanya berasal dari wilayah Gudo dan sekitarnya. Namanya juga telah dikenal hingga daerah tetangga seperti Kediri dan Nganjuk.

Fauziah, salah seorang pelanggan asal Kediri, mengaku tak keberatan menempuh perjalanan cukup jauh untuk menikmati rujak di warung tersebut. Menurutnya, harga yang terjangkau menjadi salah satu alasan, ditambah rasa bumbu petis yang dinilai memiliki ciri khas.

“Harga di sini terjangkau, meskipun jauh saya ke sini. Tadi ke sini pesan rujak spesial, rasanya enak dan petisnya khas, enak rasanya,” pungkasnya.

Perpaduan resep petis warisan keluarga, harga yang bersahabat, serta beragam menu tradisional membuat Warung Rujak Mbak Wati memiliki daya tarik tersendiri.

Bagi pencinta kuliner tradisional yang melintas di wilayah Gudo, warung sederhana di pinggir kali ini bisa menjadi salah satu tempat yang patut dicoba untuk menikmati rujak dengan cita rasa petis khas Jombang.***

Reporter: Taufiqur Rachman

Editor : Hadiyin

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *