Kejadian Bencana di Kota Batu Naik dari 73 Menjadi 122 Kasus, Kapolres Minta Destana Diaktifkan

Kejadian Bencana di Kota Batu Naik dari 73 Menjadi 122 Kasus, Kapolres Minta Destana Diaktifkan
Kejadian Bencana di Kota Batu Naik dari 73 Menjadi 122 Kasus, Kapolres Minta Destana Diaktifkan (Arief)

Batu, LINGKARWILIS.COM – Peningkatan jumlah kejadian bencana di Kota Batu sepanjang 2026 mendorong jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi. Salah satu upaya yang didorong adalah mengaktifkan kembali Desa Tangguh Bencana (Destana) sebagai garda terdepan penanganan bencana di tingkat masyarakat.

Berdasarkan data Polres Batu, jumlah kejadian bencana pada 2026 mencapai 122 kasus. Angka tersebut meningkat dibandingkan 2025 yang mencatat 73 kejadian.

Dorongan penguatan Destana disampaikan Kapolres Batu AKBP Panji Gedhe Prabawa saat memimpin Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi 2026 di Lapangan Rest Area Jalibar, Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu, Rabu (4/11/2026).

Apel tersebut diikuti sekitar 150 personel gabungan dari unsur TNI-Polri, pemerintah daerah, instansi terkait, serta relawan kebencanaan.

Baca juga : Cegah Bullying hingga Narkoba, Polres Batu Bentuk Satgas Polisi Jogo Sekolah

Sejumlah pejabat turut hadir, di antaranya Wali Kota Batu Nurochman, Wakil Wali Kota Heli Suyanto, Dandim 0818 Malang-Batu Letkol Czi Bayu Nugroho, serta pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD).

Dalam amanatnya, Kapolres mengingatkan bahwa masa peralihan dari musim kemarau menuju penghujan perlu mendapat perhatian serius. Cuaca ekstrem pada periode tersebut berpotensi menimbulkan berbagai bencana, seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, hingga pohon tumbang.

Peningkatan kejadian bencana dalam dua tahun terakhir, menurutnya, menjadi pengingat bahwa kesiapan seluruh unsur harus terus diperkuat.

“Data peningkatan kejadian bencana yang kita miliki menegaskan bahwa ancaman bencana bukan hanya soal jumlah, tetapi soal kesiapan sistem, sinergi antarinstansi, dan partisipasi aktif masyarakat,” tegas AKBP Panji Gedhe Prabawa.

Baca juga : Realisasi Bedah Rumah di Kota Batu Baru 28,25 Persen, Pemkot Didorong Percepat 254 Unit Tersisa

Ia meminta seluruh pemangku kepentingan tidak hanya bergerak ketika bencana sudah terjadi. Langkah pencegahan dan mitigasi perlu dilakukan lebih awal, salah satunya dengan memperbarui pemetaan kawasan rawan bencana hingga tingkat desa dan kelurahan.

Dalam apel tersebut, terdapat lima hal yang menjadi perhatian, yakni pemetaan daerah rawan bencana, mitigasi risiko, kesiapan personel dan peralatan, sosialisasi jalur evakuasi, serta penguatan koordinasi lintas sektor.

Kapolres juga menekankan pentingnya memastikan seluruh personel dan sarana prasarana siap digunakan sewaktu-waktu. Jalur evakuasi dan lokasi pengungsian harus tersedia serta mudah dijangkau masyarakat.

Selain itu, pembagian peran masing-masing instansi perlu diperjelas melalui standar operasional prosedur (SOP). Dengan koordinasi dan rantai komando yang terarah, penanganan bencana diharapkan berjalan lebih efektif dan tidak tumpang tindih.

Rincian data Polres Batu menunjukkan, dari 122 kejadian bencana sepanjang 2026, terdapat 20 kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla), 52 tanah longsor, 11 banjir, serta 39 kejadian angin kencang atau puting beliung.

Sementara itu, sepanjang 2025 tercatat 52 kejadian tanah longsor, sembilan banjir, serta 12 kejadian angin kencang dan pohon tumbang.

Melihat kondisi tersebut, Kapolres berharap seluruh unsur memiliki pemahaman yang sama dan mampu bergerak cepat ketika menghadapi situasi darurat. Menurutnya, keberhasilan penanganan bencana tidak hanya ditentukan kesiapan petugas, tetapi juga kepedulian dan keterlibatan masyarakat.

“Saya berharap melalui apel kesiapsiagaan ini, kita semua tidak hanya siap secara fisik dan peralatan, tetapi juga memiliki kesamaan persepsi, kecepatan bertindak, serta kepedulian yang tinggi. Mari kita niatkan tugas kemanusiaan ini sebagai pengabdian terbaik bagi masyarakat Kota Batu,” pungkasnya.

Apel tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan menghadapi puncak musim hujan 2026–2027. Koordinasi dengan pemerintah daerah sekitar, termasuk Kabupaten Malang dan BPBD, serta kesiapan personel dan alat berat di jalur rawan bencana juga diharapkan terus ditingkatkan.***

Reporter: Arief Juli Prabowo

Editor : Hadiyin

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *