Jombang, LINGKARWILIS.COM – Olahan pangan tradisional berbahan dasar jagung kembali mendapat tempat di tengah masyarakat. Di Desa Dukuhklopo, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, nasi ampok yang identik dengan makanan tempo dulu kini dikemas lebih praktis dalam bentuk instan dan diminati berbagai kalangan.
Produk tersebut dihasilkan dari usaha rumahan milik Sulistiyowati dengan merek Nasi Ampok Instan Dua Putra. Ampok instan ini banyak dicari, terutama oleh konsumen yang memperhatikan kadar gula dalam makanan sehari-hari.
“Bahan dasarnya jagung. Dulu dikenal sebagai makanan jadul, tapi sekarang justru digemari karena kandungan gulanya nol, sehingga aman bagi penderita diabetes,” ujar Sulistiyowati, Jumat (12/12).
Usaha tersebut telah dirintis sejak 2009. Dalam sekali produksi, kebutuhan jagung mencapai sekitar lima kuintal, bahkan bisa meningkat hingga satu ton pada waktu tertentu. Dari jumlah tersebut, dihasilkan sekitar empat kuintal nasi ampok instan siap edar.
Baca juga : Kepala Dinas Pendidikan Hadiri Dies Natalis ke-64 SDN Banjaran 4 Kota Kediri
Proses pengolahan dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari penggilingan jagung, pemasakan adonan selama dua hingga tiga jam, hingga pengemasan.
Meski berbasis pangan tradisional, pemasaran produk ini tidak hanya menjangkau wilayah Jombang. Nasi ampok instan Dua Putra telah dipasarkan ke berbagai daerah di luar Jawa, bahkan hingga mancanegara.
“Permintaan dari Banyuwangi misalnya, biasanya sudah pesan dua minggu sebelumnya. Sekali kirim bisa sampai 53 karung,” katanya.
Namun demikian, jumlah pengiriman tidak selalu stabil dan menyesuaikan permintaan pasar. Pada periode tertentu, pengiriman bisa mencapai lima hingga enam kuintal, sementara pada hari lainnya tidak ada pengiriman sama sekali.
Baca juga : Antisipasi Pohon Tumbang, DLHKP Kota Kediri Lakukan Pemangkasan Puluhan Pohon di Jalan A. Yani
Sulistiyowati mengungkapkan, kenaikan harga beras turut mendorong minat masyarakat terhadap nasi ampok sebagai alternatif pangan. Meski begitu, bertambahnya jumlah produsen serupa membuat peningkatan penjualan tidak terlalu signifikan.
“Kenaikannya sekitar 10 persen. Kalau biasanya 3 sampai 5 karung, sekarang bisa 6 hingga 10 karung,” jelasnya.
Untuk harga, produk ini tergolong terjangkau. Kemasan 120 gram dijual seharga Rp2.000, sedangkan kemasan 140 gram dibanderol Rp2.500. Penjualan umumnya dilakukan dalam bentuk karung kepada distributor.
Dari usaha tersebut, Sulistiyowati mengaku memperoleh pendapatan bersih sekitar Rp5 juta per bulan, tergantung pada jumlah pesanan. Ia juga memastikan ketersediaan bahan baku jagung sejauh ini tidak mengalami kendala.
“Alhamdulillah, pasokan jagung selalu aman,” pungkasnya.***
Reporter : Agung Pamungkas
Editor : Hadiyin


