JOMBANG, LINGKARWILIS.COM — Budidaya lovebird semakin diminati, terutama oleh kalangan pemula yang ingin menyalurkan hobi memelihara burung sekaligus belajar beternak. Usaha ini sejatinya tidak harus dimulai dengan orientasi keuntungan, melainkan dari kegemaran yang melahirkan ketelatenan dan kepedulian terhadap satwa peliharaan.
Breeder lovebird asal Jombang, Mohamad Iqbal, menuturkan bahwa niat awal sangat menentukan keberhasilan dalam dunia breeding. Ketika ternak diawali dari hobi, pemilik cenderung lebih sabar dan peka terhadap kondisi burung, mulai dari karakter, perilaku, hingga kebutuhan alaminya.
“Lingkungan kandang harus aman dari predator, mendapatkan sinar matahari pagi, serta memiliki sirkulasi udara yang baik,” ujar Iqbal, Senin (29/12).
Menurutnya, kedekatan emosional antara pemilik dan burung sering kali membantu pemula lebih cepat memahami pola perawatan. Proses belajar pun berjalan lebih alami tanpa tekanan, sehingga potensi kesalahan dapat diminimalisir.
Baca juga : Cuaca Akhir Tahun Tak Stabil, Dispertabun Kediri Dorong Poktan Intensifkan Gerdal OPT
Sebelum membeli indukan, Iqbal menyarankan agar kandang dipersiapkan terlebih dahulu. Bagi pemula, sistem kandang satu pasangan dinilai lebih mudah dikontrol. Kebersihan, kekuatan konstruksi, dan ventilasi yang baik sangat berpengaruh terhadap kesehatan serta produktivitas lovebird.
Dalam memilih indukan, kehati-hatian menjadi hal utama. Lovebird yang sehat umumnya aktif, bermata cerah, berbulu rapi, serta memiliki nafsu makan baik. Usia indukan ideal berada pada kisaran satu hingga dua tahun.
“Pemula sebaiknya membeli indukan dari breeder terpercaya yang sudah memastikan jenis kelamin jantan dan betina, karena membedakan lovebird tidak mudah bagi orang awam,” jelasnya.
Baca juga : Diduga Korsleting Listrik, Rumah Warga Tembelang Jombang Hangus Terbakar
Setelah indukan dimasukkan ke kandang, proses penjodohan memerlukan kesabaran. Ada pasangan yang cepat cocok, namun ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama. Lovebird yang sudah berjodoh biasanya tampak selalu berdampingan dan saling menyuapi. Saat indukan mulai bertelur, kondisi kandang harus dijaga tetap tenang agar pengeraman berlangsung optimal.
Perhatian ekstra diperlukan ketika memasuki fase anakan. Sebagian peternak memilih metode handfeeding untuk menunjang pertumbuhan piyik. Namun tahap ini tergolong sensitif dan menuntut kedisiplinan tinggi.
“Ini fase paling rawan. Kebersihan peralatan dan kestabilan suhu pakan harus benar-benar dijaga agar angka kematian bisa ditekan,” tegas Iqbal.
Ia menambahkan, pola pakan yang seimbang menjadi faktor pendukung penting. Selain biji-bijian sebagai pakan utama, lovebird juga membutuhkan tambahan sayuran, buah, serta mineral. Kebersihan kandang dan peralatan harus dilakukan secara rutin untuk mencegah penyakit.
Bagi pemula yang ingin belajar dengan pendekatan lebih santai, sistem koloni juga bisa menjadi alternatif. Lovebird yang bersifat sosial cenderung nyaman hidup berkelompok, asalkan kandang cukup luas dan jumlah sarang memadai.
“Model koloni bisa diterapkan dengan kandang besar minimal berukuran 2×3 meter. Kuncinya kandang harus kokoh, sirkulasi udara baik, dan setiap pasangan mendapat sarang,” paparnya.
Iqbal menekankan bahwa beternak lovebird bukan semata mengejar hasil cepat. Jika dimulai dari hobi, perhatian dan rasa sayang akan tumbuh dengan sendirinya, diikuti peningkatan pengalaman serta kepercayaan diri sebagai breeder.
“Lakukan riset, aktif di komunitas, dan awali dari skala kecil agar risiko bisa ditekan,” pungkasnya.***
Reporter : Agung Pamungkas
Editor : Hadiyin






