Nganjuk, LINGKARWILIS.COM – Upaya menekan angka stunting di Kabupaten Nganjuk masih menghadapi sejumlah hambatan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Nganjuk menyebut dua persoalan utama yang menjadi tantangan, yakni rendahnya kemampuan kader Posyandu serta kurangnya alat antropometri standar untuk pengukuran tumbuh kembang balita.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Nganjuk, I Ketut Wijayadi, menjelaskan bahwa dari kebutuhan 1.294 set alat antropometri, sampai saat ini baru tersedia 390 set. Kekurangan tersebut membuat sebagian besar Posyandu terpaksa menggunakan alat manual, termasuk timbangan dacin, yang tingkat akurasinya tidak memenuhi standar.
Dalam kerangka pencegahan, Dinkes Nganjuk menerapkan intervensi menyeluruh pada berbagai kelompok usia, mulai dari remaja hingga balita. Program konsumsi wajib Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri menjadi salah satu fokus, namun realisasinya belum optimal. Capaian konsumsi TTD baru mencapai 64 persen, masih jauh dari target nasional 75 persen.
Baca juga : Kasus Stunting di Nganjuk Naik Jadi 3.394 Balita, Tanjunganom Catat Angka Tertinggi
“Pemberian tablet tambah darah ini dimaksudkan agar remaja putri tumbuh sehat, sehingga saat memasuki masa perkawinan mereka tidak berisiko mengalami stunting,” jelas Ketut.
Di samping remaja, intervensi juga diberikan kepada calon pengantin, ibu hamil melalui pemeriksaan rutin minimal enam kali dan pemberian susu tambahan—serta kelompok balita, yang meliputi imunisasi lengkap, ASI eksklusif, pemberian MP-ASI bergizi, hingga pemantauan tumbuh kembang.
Meski pemerintah pusat telah mengalokasikan insentif fiskal sebesar Rp5,68 miliar untuk penanganan stunting, Ketut mengakui bahwa anggaran tersebut masih belum cukup untuk menjangkau seluruh kebutuhan.
Baca juga : Kota Kediri Raih Peringkat 2 Nasional dalam Upaya Percepatan Penurunan Stunting
“Anggarannya terbatas, sehingga kami harus menetapkan prioritas secara ketat,” ujarnya.
Ia menegaskan, penanganan stunting tidak dapat dilakukan oleh Dinkes saja. Sinergi lintas sektor sangat dibutuhkan, mencakup OPD lain seperti pendidikan, ketahanan pangan, PPKB, hingga Perkim. Selain itu, kontribusi PKK dan kader Posyandu dalam pendataan serta edukasi keluarga diakui sebagai faktor penting dalam menekan angka stunting.***
Reporter: Inna Dewi Fatimah
Editor : Hadiyin


