LINGKARWILIS.COM – Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) di Tulungagung kembali beroperasi dan berpotensi menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun, untuk menghindari potensi konflik dengan warga sekitar, operasional IPLT dihentikan setiap hari Sabtu dan Minggu.
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Tulungagung, Anang Prastitianto, mengungkapkan bahwa sebelum difungsikan kembali, IPLT tersebut sempat dibangun oleh Kementerian dengan standar nasional. Pembangunan yang menelan anggaran Rp 2 miliar itu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pengolahan limbah.
Dengan sistem yang lebih modern, pihaknya optimistis IPLT kini tidak lagi menimbulkan bau tak sedap seperti sebelumnya. Hal ini lantaran metode pengolahan lumpur tinja telah mengalami perubahan signifikan dibandingkan sebelum IPLT dibangun.
Final! MK Putuskan Hasil Pilkada Tulungagung, KPU Siap Gelar Pleno
“Kalau dulu, IPLT hanya punya 4 bak penampungan, dimana lumpur tinja yang masuk hanya dibuang pada bak penampungan itu dan dibiarkan mengering. Kalau sekarang sudah diolah terlebih dahulu dengan empat tahap,” jelas Anang Prastitianto pada Jumat (7/2/2025).
Ia menambahkan bahwa keberadaan IPLT ini berpotensi meningkatkan PAD Kabupaten Tulungagung. Setiap truk tangki yang membuang lumpur tinja ke IPLT dikenakan biaya sebesar Rp 150 ribu per kubik, yang nantinya dapat berkontribusi bagi pembangunan daerah.
Meski ditargetkan dapat menghasilkan PAD, operasional IPLT tahun ini masih dalam tahap uji coba. Evaluasi terhadap pemasukan dari IPLT akan menjadi acuan dalam menentukan target PAD atau retribusi daerah ke depannya.
Keberlanjutan Operasional IPLT di Tulungagung, Warga Ingin Jaminan Tanpa Bau Mengganggu
“Kami belum tahu berapa estimasi atau potensi PAD yang akan didapat. Makanya tahun ini masih uji coba, kita lihat berapa pemasukannya dalam setahun. Barulah hasil uji coba ini akan dijadikan acuan untuk target capaian PAD tahun 2026,” ujarnya.
Selain membatasi jumlah truk yang beroperasiβyakni maksimal enam unit per hariβpemerintah daerah juga menyesuaikan jadwal operasional IPLT dengan aktivitas masyarakat setempat.
Mengingat lokasi IPLT berdekatan dengan wisata petik belimbing yang dikelola warga, operasionalnya dihentikan pada akhir pekan guna mendukung kegiatan pariwisata tersebut.
“Sabtu dan Minggu libur karena menghargai wisata petik belimbing yang dikelola masyarakat setempat. Mengingat wisata itu ramai ketika weekend,” tutup Anang.

