Ponorogo, LINGKARWILIS.COM – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak kekeringan di Desa Karangpatihan, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Sabtu (19/9/2026).
Bantuan tersebut diberikan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih selama musim kemarau. Pemprov Jatim mengerahkan tiga truk tangki air untuk menyuplai kebutuhan warga di wilayah terdampak.
Selain air bersih, Khofifah juga menyerahkan 200 jeriken dan 50 unit tandon yang dapat digunakan masyarakat untuk menampung cadangan air di tingkat rumah tangga.
“Kita ingin memastikan masyarakat yang terdampak kekeringan bisa segera mendapatkan bantuan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Pemprov dan kabupaten terus membersamai masyarakat agar mendapatkan air bersih,” kata Khofifah.
Baca juga : BTT Ponorogo Diusulkan Naik 297 Persen, Tembus Rp19,85 Miliar
Menurut Khofifah, distribusi air bersih merupakan salah satu langkah penanganan darurat yang dilakukan Pemprov Jatim bersama pemerintah kabupaten/kota. Upaya tersebut berjalan beriringan dengan sejumlah langkah lain untuk mencari solusi terhadap persoalan kekeringan.
Salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang telah dilakukan sejak 3 September 2026. Pemprov Jatim juga melakukan pemetaan sumber air potensial untuk mencari titik yang dapat dimanfaatkan dan dialirkan menuju wilayah terdampak melalui jaringan pipanisasi.
“Bahwa ada yang sesungguhnya bisa kita lakukan secara lebih strategis ketika kita menemukan sumber-sumber air terdekat yang dimungkinkan untuk bisa diakses,” ujarnya.
Selain itu, pengeboran sumur dilakukan di sejumlah lokasi untuk mencari sumber air bawah tanah. Namun, Khofifah menyebut kondisi geologi setiap daerah berbeda sehingga hasil pengeboran tidak selalu sama.
“Ada titik sudah dibor sampai 200 meter, ketemunya batu. Tapi juga ada yang sekitar 90 meter sudah menemukan air,” tuturnya.
Baca juga : Tak Cuma Riding, Sambung Guyub Polres Kediri dan Awak Media Bawa Pesan Kesiapsiagaan Bencana
Khofifah menyebut hingga pertengahan September 2026, sebanyak 24 kabupaten/kota di Jawa Timur telah menetapkan status kedaruratan akibat kekeringan. Dari jumlah tersebut, pemerintah provinsi terus memperkuat penanganan yang telah dilakukan masing-masing pemerintah daerah.
“Jadi kehadiran Pemprov itu melapisi dan memperkuat upaya yang sudah dilakukan pemerintah kabupaten dan kota dalam menangani dampak kekeringan,” imbuhnya.
Di tengah kondisi tersebut, Khofifah juga mengajak masyarakat melakukan ikhtiar spiritual. Ia meminta Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Timur menggelar salat istisqa atau salat meminta hujan secara serentak pada Jumat pekan depan.
“Ini bagian ikhtiar kita agar Allah SWT menurunkan hujan rahmat dan manfaat. Kita minta DMI Jawa Timur setelah salat Jumat menggelar salat istisqa,” pungkasnya.***
Reporter: Sony Dwi Prastyo
Editor: Hadiyin





