Jombang, LINGKARWILIS.COM – Di tengah gegap gempita perayaan Agustusan, ada sosok-sosok yang bekerja dalam diam namun menghasilkan karya yang mencuri perhatian. Di Desa Pangklungan, Kecamatan Wonosalam, Jombang, kreativitas Hari Suciono (35) berbicara lantang lewat kostum-kostum karnaval hasil olahan limbah.
Berbekal bahan bekas seperti busa, biji-bijian, hingga bulu rontok, Hari menyulap limbah menjadi busana parade yang tak hanya memikat mata, tapi juga bernilai ekonomis. Tanpa latar belakang seni rupa atau modal besar, Hari mengembangkan keterampilannya secara otodidak dari teras rumah yang sederhana.
“Awalnya cuma iseng, karena gak ada dana buat beli bahan bagus. Eh, malah menang lomba,” ujar Hari sembari tertawa mengenang masa awal merintis, Minggu (13/7).
Kemenangan pertamanya menjadi titik balik. Kini, ia menjadi langganan pesanan dari berbagai daerah seperti Mojokerto, Sidoarjo, hingga Gresik. Setiap Agustus, rumahnya berubah menjadi bengkel kreatif, tempat ia dan pamannya tekun memotong, mengecat, dan merangkai ornamen.
Tak ada mesin modern di tempatnya bekerja. Hanya cutter, kuas, dan lem tembak. Tapi dari tangan-tangan terampil itulah, lahir kostum tokoh pewayangan, pakaian tradisional, hingga karakter fiksi lengkap dengan detail yang memukau.
“Kalau desainnya simpel, tiga hari cukup. Tapi yang rumit bisa sampai sebulan,” jelasnya, sambil menunjukkan topeng unik yang dihiasi biji saga dan bulu angsa.
Hari menawarkan dua pilihan layanan: sewa dan jual putus. Untuk penyewaan, tarifnya berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp1 juta, sedangkan pembelian bisa mencapai Rp3 juta tergantung tingkat kerumitan desain. Semua kostum dibuat dari bahan sisa produksi atau limbah rumah tangga.
Baca juga : Pesona Tanjakan Dholo Uji Ketangguhan Ratusan Pesepeda Dalam Event Kediri Dholo KOM 2025
Baginya, tak ada bahan yang benar-benar sampah selama masih bisa diolah kembali. Prinsip itu pula yang membawa usahanya berkembang hingga meraih omzet dua digit di musim karnaval.
“Syukur alhamdulillah, rezekinya lancar. Yang bikin lebih senang, saya bisa ajak tetangga kerja bareng saat pesanan sedang ramai,” tutupnya.***
Reporter : Agung
Editor : Hadiyin





