JOMBANG, LINGKARWILIS.COM — Hasil panen durian lokal di Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, tahun ini mengalami penurunan cukup tajam. Kendati demikian, tingginya minat pasar terhadap durian khas lereng Gunung Anjasmoro membuat komoditas tersebut tetap cepat terserap.
Salah satu petani durian Wonosalam, Heri Susanto, warga Dusun Tukum, Desa Wonosalam, mengungkapkan bahwa produktivitas panen pada musim ini jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada musim lalu ia mampu memanen hingga sekitar 500 buah per hari, saat ini jumlah panen hanya berkisar antara 100 hingga 200 buah per hari.
“Kalau dibandingkan dengan tahun lalu, panen kali ini memang turun cukup drastis,” ujar Heri, Minggu (18/1).
Ia menjelaskan, faktor cuaca menjadi penyebab utama menurunnya produksi durian. Curah hujan yang tinggi disertai angin kencang membuat banyak bunga durian rontok sebelum berkembang menjadi buah. Bahkan, sebagian buah yang sudah terbentuk juga terjatuh sebelum mencapai tingkat kematangan optimal.
Baca juga : Menanti Regulasi Usia Porprov 2027, Kodrat Kabupaten Kediri Matangkan Persiapan Atlet
“Hujan hampir terjadi setiap hari, sehingga banyak buah yang jatuh sebelum benar-benar matang,” jelasnya.
Secara keseluruhan, penurunan hasil panen durian Wonosalam diperkirakan mencapai lebih dari 50 persen dibandingkan kondisi normal. Meski demikian, permintaan pasar terhadap durian lokal tidak mengalami penurunan.
Terbatasnya pasokan justru berdampak pada naiknya harga di tingkat petani. Saat ini, durian Wonosalam dijual dengan kisaran harga antara Rp25 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram, tergantung ukuran dan kualitas buah.
Meski harga cenderung meningkat, durian Wonosalam tetap diminati konsumen karena cita rasanya yang khas, legit, dengan sensasi pahit yang kuat.
Baca juga : Kasus PMK Bertambah, 53 Sapi di Kabupaten Kediri Terpapar dan Satu Dilaporkan Mati
“Stok memang terbatas, tapi durian tetap laku dan selalu habis setiap hari,” pungkas Heri.***
Reporter : Agung Pamungkas
Editor : Hadiyin






