Kediri, LINGKARWILIS.COM – Harga gabah kering sawah (GKS) di Kabupaten Kediri pasca Lebaran tercatat mencapai Rp7.200 per kilogram dan hingga kini masih bertahan. Kondisi ini disambut positif oleh para petani yang memilih langsung menjual hasil panennya dari sawah.
Stabilnya harga dinilai memberikan keuntungan, terlebih jika sebanding dengan biaya produksi sejak awal masa tanam. Para petani pun mengaku bersyukur atas kondisi tersebut.
Supranyoto, petani asal Kecamatan Ringinrejo, mengungkapkan kegembiraannya atas tingginya harga gabah saat ini. Ia memiliki beberapa lahan dengan masa panen yang berbeda, sebagian dipanen sebelum Lebaran dan sisanya setelah Lebaran.
“Harganya cukup lama bertahan, tentu ini sangat menggembirakan bagi kami,” ujarnya.
Baca juga : Gasak Ponsel di Nganjuk, Pasutri Residivis Dibekuk di Kediri
Meski demikian, ia mengakui serangan hama wereng masih menjadi tantangan. Untuk mengatasinya, para petani melakukan pengendalian secara rutin, baik secara mandiri maupun berkelompok, terutama pada pagi dan sore hari.
“Kalau perawatan dilakukan dengan baik, hasil panen juga akan maksimal,” tambahnya.
Terkait penjualan, Supranyoto menyebut pembeli biasanya datang langsung ke lokasi. Sementara itu, Bulog belum menyerap gabah dengan harga tersebut karena masih mengacu pada Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram.
Ia berharap tren harga yang menguntungkan ini dapat terus berlanjut, bahkan meningkat seperti tahun sebelumnya. Menurutnya, kualitas gabah yang baik dipengaruhi oleh penggunaan benih unggul, perawatan sejak awal tanam, pemupukan, serta pengendalian hama secara intensif.
“Jika semua proses dilakukan dengan baik, hasil gabah tentu berkualitas,” pungkasnya.***
Reporter : Bakti Wijayanto
Editor : Hadiyin





