LINGKARWILIS.COM – Indonesia terkenal memiliki banyak sekali tradisi unik dan menarik dari berbagai daerah.
Salah satu tradisi unik yang menarik untuk kita cari tahu adalah Manten Sapi yang berasal dari Pasuruan, Jawa Timur.
Tradisi Manten Sapi ini biasanya dilaksanakan menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha.
Tidak hanya mencerminkan penghormatan terhadap hewan yang akan dikurbankan, tradisi Manten Sapi ini juga sebagai bentuk syukur masyarakat atas limpahan rezeki dari Tuhan YME.
Tradisi Manten Sapi ini masih rutin dilakukan oleh warga yang tinggal di Desa Watuprapat, Kecamatan Nguling, Pasuruan.
Setiap tahun, sapi yang akan dikurbankan dimandikan menggunakan air dengan campuran bunga dan dihias menyerupai pasangan pengantin.
Hiasan yang digunakan sapi dalam perayaan ini antara lain kalung bunga tujuh rupa, mahkota bunga serta kain kafan berwarna putih.
Riasan ini memiliki makna yang simbolis, mencerminkan kesucian, penghormatan, serta kesiapan hewan yang akan digunakan untuk berkurban.
Pemkot Batu Sambut Hangat Kolaborasi Bersama Koranmemo Group, Siap Dukung Program Mbatu SAE!
Prosesi ini tidak berhenti pada merias hewan saja, sapi yang telah dirias kemudian diarak keliling desa dan kemudian dibawa ke tempat penyembelihan.
Dalam prosesi arak-arakan, warga juga membawa sejumlah sembako seperti beras, minyak goreng, bumbu dapur serta kayu bakar yang nantinya akan dibagikan pada warga yang membutuhkan.
Usai hewan kurban disembelih, daging kurban akan dimasak dan dinikmati bersama oleh panitia dan warga.
Tradisi ini juga menjadi salah satu ajang untuk mempererat solidaritas warga sekaligus mengajarkan tentang pentingnya berbagi dan gotong royong.
Manten Sapi ini juga mengajarkan tentang pentingnya memperlakukan hewan kurban dengan baik sesuai dengan ajaran agama Islam.
Tradisi Manten Sapi tidak hanya sekedar ritual menjelang Idul Adha, namun juga warisan budaya yang sarat akan nilai spiritual, sosial dan kemanusiaan.
Manten Sapi menjadi bukti bahwa nilai keagamaan bisa berjalan secara beriringan dengan kearifan lokal yang ada di masyarakat.
Penulis: Rafika Pungki Wilujeng
Editor: Shadinta Aulia Sanjaya

