Blitar, LINGKARWILIS.COM – Mendekati Hari Raya Idul Adha, permintaan akan hewan kurban melonjak tajam. Para pedagang sapi pun berlomba-lomba menampilkan dagangan mereka dalam kondisi terbaik. Tak heran, jasa perawatan khusus hewan kurban pun kebanjiran pesanan.
Salon yang dimaksud bukan tempat potong rambut, melainkan jasa khusus untuk merawat fisik sapi. Prosesnya meliputi pembersihan kuku, perapian tanduk, hingga mempercantik penampilan keseluruhan hewan. Fenomena ini telah menjadi tradisi tersendiri di Pasar Hewan Dimoro, Kelurahan Kauman, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar. Tak sedikit penjual yang antre untuk mendapatkan layanan perawatan bagi sapi-sapi mereka.
Salah satu penyedia jasa ini adalah Nurrohman, pria berusia 58 tahun yang sudah lebih dari tiga dekade menekuni profesi sebagai “penyedia layanan kecantikan” bagi sapi. Setiap menjelang kurban, ia rutin hadir di Pasar Dimoro untuk melayani pelanggan.
Baca juga : Polres Kediri Kota Bongkar 19 Kasus Narkoba, 23 Tersangka Diamankan Termasuk Empat Residivis
“Sudah sekitar 30 tahun saya menekuni pekerjaan ini. Lumayan, hasilnya bisa membantu kebutuhan sehari-hari,” ujarnya saat ditemui, Selasa (3/6/2025).
Nurrohman bekerja menggunakan peralatan sederhana seperti kikir, pisau kecil, dan palu ringan. Setelah sapi diikat pada tiang bambu, ia dengan sabar memotong dan merapikan kuku yang panjang dan kotor, lalu menghaluskannya. Ia juga memberi perhatian khusus pada tanduk sapi, yang dibersihkan dan diasah hingga tampak mengilap.
Dalam sehari, terutama menjelang Iduladha, Nurrohman bisa merawat 14 hingga 20 ekor sapi. Jenis hewannya pun beragam, dari sapi lokal hingga jenis berbobot besar seperti limousin dan simmental. Soal tarif, jasa potong kuku dan perawatan dikenakan biaya Rp40 ribu. Jika termasuk poles tanduk, tarif naik menjadi Rp50 ribu.
Baca juga : Dinas Perkim Kabupaten Kediri Tindak Cepat Perbaiki Rumah Korban Bencana di Mojo
Meski terlihat sederhana, pekerjaan ini menuntut keterampilan sekaligus keberanian. Nurrohman mengaku kerap terkena tendangan atau hentakan kaki sapi. Untuk menghindari cedera, ia mengencangkan tali ikat dan menepuk-nepuk kaki sapi agar lebih tenang.
Tantangan lain yang dihadapi adalah cipratan air seni dan kotoran saat kuku sedang dikikir. “Mungkin geli ya sapinya saat kukunya dibersihkan, jadi kadang tiba-tiba buang air. Saya harus cepat-cepat menghindar karena posisi saya jongkok,” ceritanya.
Suparjo, salah satu pedagang sapi di Pasar Dimoro, menyambut positif keberadaan tukang salon hewan ini. Menurutnya, sapi yang dirawat dan tampil bersih lebih menarik di mata pembeli. “Kadang bisa menaikkan harga jual sampai setengah juta rupiah,” ucapnya.***
Reporter : Aziz Wahyudi
Editor : Hadiyin





