LINGKARWILIS.COM – Produksi ikan konsumsi di Kabupaten Tulungagung selama semester pertama tahun 2025 tercatat mengalami peningkatan signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Meski demikian, lonjakan produksi tersebut tidak serta-merta mendorong kenaikan harga di pasaran.
Kepala Bidang Pengelolaan Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Tulungagung, Sri Yanti menyampaikan bahwa hingga pertengahan tahun ini total produksi ikan konsumsi telah mencapai 26.192 ton atau meningkat sekitar 14 persen dibandingkan semester pertama tahun 2024.
“Kalau kita lihat datanya, pada semester pertama tahun 2025 ini, produksi ikan konsumsi kita lebih baik dibandingkan tahun 2024 kemarin,” ujar Yanti, Senin (7/7/2025).
Yanti menambahkan, cuaca yang tidak menentu sempat dikhawatirkan akan mengganggu produksi, namun ternyata pembudidaya justru mampu meningkatkan hasil.
Tulungagung Genjot Usulan Penanganan Kawasan Kumuh, Target Mulai 2026
Salah satu faktor pendorong kenaikan ini adalah meningkatnya permintaan pasar selama masa libur panjang yang terjadi di paruh pertama 2025.
“Apalagi kemarin juga banyak masa libur panjang, sehingga hal ini juga sudah diantisipasi pembudidaya untuk meningkatkan produksi ikan konsumsi,” imbuhnya.
Sebagai perbandingan, pada tahun 2024 lalu, Dinas Perikanan menargetkan produksi ikan konsumsi sebesar 46.334 ton tetapi realisasi justru melampaui target yakni mencapai 49.221 ton hingga akhir tahun.
Sementara untuk tahun 2025, target produksi ditetapkan lebih tinggi yaitu 48.653 ton.
Di Tulungagung sendiri, komoditas unggulan ikan konsumsi meliputi ikan gurami, lele, dan patin dengan dominasi produksi berasal dari ikan gurami. Bahkan, wilayah ini dikenal sebagai salah satu penghasil gurami terbesar di **Jawa Timur**.
Meski permintaan dan produksi meningkat, Yanti menegaskan bahwa harga ikan konsumsi tetap stabil. Saat ini, harga ikan gurami kering berada di angka Rp 29.000 per kilogram, gurami basah Rp 32.000, lele Rp 18.000 dan patin Rp 15.500 per kilogram.
“Harga ikan konsumsi di Tulungagung akan mahal ketika pembudidaya tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar,” jelasnya.
Distribusi hasil perikanan dari Tulungagung tidak hanya menyasar pasar lokal, namun juga menjangkau berbagai daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta, hingga Bekasi.





