Museum Potehi Gudo, Wujud Harmoni Budaya dan Upaya Melestarikan Teater Boneka Tionghoa di Kota Santri

Museum Potehi Gudo, Wujud Harmoni Budaya dan Upaya Melestarikan Teater Boneka Tionghoa di Kota Santri
Sejumlah influencer saat berkunjung ke Museum Potehi Gudo, Jombang. (ist)

Jombang, LINGKARWILIS.COM – Di tengah derasnya pengaruh budaya modern, denyut tradisi tetap hidup di Kabupaten Jombang. Di Kecamatan Gudo, tepatnya dalam kompleks Klenteng Hong San Kiong, berdiri Museum Potehi Gudo,  sebuah ruang budaya yang menjadi simbol perpaduan antara warisan Tionghoa dan kearifan lokal Jawa. Museum ini menjaga eksistensi teater boneka klasik Potehi yang telah menjadi bagian dari sejarah lintas generasi.

Belakangan, museum ini semakin ramai dikunjungi, bukan hanya oleh wisatawan lokal, tetapi juga kreator konten dan pegiat budaya dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Mereka datang untuk mendalami filosofi, proses pembuatan, hingga teknik memainkan boneka Potehi, boneka kayu dan kain yang digerakkan sepenuhnya dengan tangan di balik panggung mini.

Memasuki area pameran, pengunjung akan disuguhkan deretan boneka berwarna cerah dengan detail ekspresif dan rumit. Setiap boneka menyimpan kisah unik, mulai dari legenda klasik Tiongkok hingga cerita modern yang kini turut diadaptasi dalam pertunjukan.

Baca juga :  Pelatih Persik Kediri Evaluasi Dua Kartu Merah Beruntun

Pendiri museum, Toni Harsono, mengungkapkan bahwa seni Potehi di Gudo sudah berkembang sejak tahun 1920-an dan diwariskan secara turun-temurun. Ia menegaskan bahwa museum ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pertunjukan, tetapi juga sebagai sarana edukasi agar generasi muda mengenal dan mencintai seni tradisional.

“Potehi ini berasal dari Tiongkok Selatan. ‘Po’ berarti kain, ‘te’ artinya kantong, dan ‘hi’ pertunjukan — jadi Potehi bisa diartikan sebagai wayang kantong,” ujar Toni Harsono, Jumat (31/10/2025).

Ia menambahkan, satu boneka dapat memainkan berbagai karakter hanya dengan mengganti kostum dan topi. Ceritanya pun bisa disesuaikan, dari kisah klasik hingga cerita kontemporer.

“Kami bahkan pernah tampil di UNESCO membawakan cerita lokal Indonesia,” tambahnya.

Baca juga : Dispertabun Kabupaten Kediri Pastikan Tanaman Aman dari Puso

Di antara koleksi dan pertunjukan yang ada, perhatian publik banyak tertuju pada Muhammad Atahiya, dalang muda berusia 11 tahun yang telah mahir memainkan wayang Potehi sejak duduk di bangku kelas tiga SD. Dengan gerakan tangan kecilnya yang gesit, Atahiya mampu menghadirkan berbagai tokoh lengkap dengan dialog dan musik pengiring.

“Saya mulai belajar sejak kelas tiga SD. Awalnya sering nonton pertunjukan di Klenteng Gudo, terus tertarik jadi dalang,” tuturnya.

Kehadiran anak-anak seperti Atahiya menjadi bukti bahwa semangat Potehi masih mengalir di kalangan generasi muda. Dengan dukungan Toni Harsono dan para seniman lokal, Museum Potehi Gudo kini bertransformasi menjadi pusat pembelajaran budaya yang mempertemukan tradisi, pendidikan, dan kreativitas lintas usia.

Lebih dari sekadar melestarikan artefak dan pertunjukan, keberadaan museum ini juga mencerminkan toleransi dan kerukunan antarbudaya. Seni yang berakar dari tradisi Tionghoa kini hidup berdampingan dengan masyarakat Jawa dan bahkan diminati oleh para santri di sekitar Gudo.

Melalui kolaborasi lintas budaya ini, Museum Potehi Gudo membuktikan bahwa menjaga tradisi bukan hanya soal merawat masa lalu, melainkan juga menumbuhkan semangat kebersamaan dan harmoni di masa kini.***

Reporter : Agung Pamungkas

Editor ; Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ayahqqklik66klik66klik66ayahqqlonteqqklik66ayahqqhalubet76klik66klik66klik66klik66https://lingkarwilis.com/mail/https://dellacortevanvitelli.edu.it/argomento/https://dellacortevanvitelli.edu.it/argomento/albo-sindacale/https://www.medicallifesciences.org.uk/ckfiles/bandarqq/index.htmlhttps://kampungdigital.id/wp-includes/js/pkv-games/https://kampungdigital.id/wp-includes/js/bandarqq/https://kampungdigital.id/wp-includes/js/dominoqq/https://youthspaceinnovation.com/about/dominoqq/https://youthspaceinnovation.com/wp-includes/bandarqq/https://dutapendidikan.id/.private/pkv/https://dutapendidikan.id/.private/bandarqq/https://dutapendidikan.id/.private/dominoqq/https://ramanhospital.in/js/pkv-games/https://ramanhospital.in/js/bandarqq/https://ramanhospital.in/js/dominoqq/https://sunatrokifun.com/wp-includes/pkv-games/https://sunatrokifun.com/wp-includes/bandarqq/https://sunatrokifun.com/wp-includes/dominoqq/https://inl.co.id/themes/pkvgames/https://inl.co.id/themes/bandarqq/https://inl.co.id/themes/dominoqq/https://vyrclothing.com/https://umbi.edu/visit/https://newtonindonesia.co.id/pkv-games/https://newtonindonesia.co.id/bandarqq/https://newtonindonesia.co.id/dominoqq/https://dkpbuteng.com/dock/pkv-games/https://dkpbuteng.com/dock/bandarqq/https://dkpbuteng.com/dock/dominoqq/https://tamanzakat.org/wp-includes/pkv/https://tamanzakat.org/wp-includes/bandarqq/https://tamanzakat.org/wp-includes/dominoqq/https://rsiaadina.com/rs/pkv-games/https://rsiaadina.com/rs/bandarqq/https://rsiaadina.com/rs/dominoqq/https://cheersport.at/doc/pkv-games/SLOT4DSLOT4D