KEDIRI, LINGKARWILIS.COM — Kondisi cuaca yang tak menentu selama musim kemarau basah memicu kekhawatiran petani cabai di Kabupaten Kediri terhadap ancaman virus pethek. Perubahan suhu dan kelembaban yang drastis berpengaruh terhadap kualitas buah, terutama saat tanaman memasuki masa panen.
Virus pethek diketahui menyerang buah cabai dengan gejala awal berupa bintik hitam kecil. Jika tidak segera ditangani, infeksi ini dapat menyebar cepat dan menyebabkan kerugian besar bagi petani.
Edi Susilo, petani cabai asal Kecamatan Ringinrejo, mengungkapkan pentingnya deteksi dini terhadap ciri-ciri virus ini. Ia menekankan agar setiap buah yang menunjukkan gejala segera dipetik dan dimusnahkan untuk mencegah penyebaran ke tanaman lain.
Baca juga : Pameran Budaya Kabupaten Kediri Serap Antusiasme Pelajar
“Harga cabai sekarang di pasaran mencapai Rp 40 ribu per kilogram, jauh lebih tinggi dibanding bulan lalu. Kalau pethek ini menyebar, bukan hanya tanaman yang rusak, tapi harga juga bisa turun karena kualitas hasil panen menurun,” ujarnya, Selasa (17/6/2025).
Untuk meminimalisasi risiko, Edi menyarankan agar petani memilih benih berkualitas unggul dan rutin melakukan perawatan intensif. Ia juga menekankan pentingnya pemupukan yang tepat dan pengawasan ketat selama fase pertumbuhan.
“Musim seperti ini menuntut kita lebih waspada. Tanaman harus dalam kondisi sehat agar saat panen nanti hasilnya tetap maksimal dan tidak terpengaruh fluktuasi cuaca,” tambahnya.
Baca juga : Bupati Kediri Mas Dhito Tinjau Tiga Gedung Baru RSKK Pare, Targetkan Jadi Rumah Sakit Rujukan
Virus pethek menjadi ancaman serius bagi petani cabai selama musim kemarau basah, dan upaya pencegahan secara mandiri dinilai menjadi langkah paling efektif untuk menjaga stabilitas produksi dan harga. ***
Reporter : Bakti Wijayanto
Editor : Hadiyin





