Tulungagung, LINGKARWILIS.COM – Kasus HIV Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) di Kabupaten Tulungagung terus menjadi perhatian serius. Hingga tahun 2025, total akumulasi kasus mencapai 4.350, dengan sebagian besar penderitanya merupakan warga usia produktif, terutama ibu rumah tangga.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Tulungagung, Desi Lusiana Wardani, menjelaskan bahwa pihaknya terus memperkuat langkah menuju target eliminasi HIV AIDS pada tahun 2030. Salah satu fokus utama adalah peningkatan skrining untuk menemukan kasus sedini mungkin.
Setiap tahun, Dinkes Tulungagung berhasil mengidentifikasi antara 350 hingga 400 kasus baru. Untuk tahun 2025 saja, hingga Oktober telah terdeteksi 359 penderita, dan jumlah tersebut diperkirakan masih dapat bertambah.
“Untuk tahun lalu temuan kami mencapai 395 kasus. Angka tahun ini adalah data sejak Januari sampai Oktober, sehingga kemungkinan masih meningkat,” ujarnya, Senin (1/12/2025).
Baca juga : Proyek Revitalisasi Jalan Stasiun Kota Kediri Hampir Tuntas, Hadirkan Wajah Baru
Sejak 2006 hingga 2025, Tulungagung mencatat total 4.350 kasus HIV AIDS. Dari data tersebut, Tulungagung berada di posisi ke-12 se-Jawa Timur untuk total kasus kumulatif, dan peringkat ke-10 untuk kasus temuan baru per tahun.
Desi menekankan bahwa tingginya angka temuan bukan berarti situasi semakin memburuk. Sebaliknya, hal itu menunjukkan keberhasilan upaya penjangkauan dan skrining sehingga penderita dapat segera ditangani sebelum kondisinya berkembang menjadi AIDS.
“Tingginya temuan ini bukan indikator negatif. Justru menjadi bukti bahwa kami aktif menjaring kasus agar pasien bisa segera mendapatkan terapi,” terangnya.
Meski skrining diperketat setiap tahun, Desi menyebutkan bahwa tren temuan tidak mengalami lonjakan signifikan. Artinya, upaya deteksi dini berjalan efektif dan mampu mengungkap kasus yang sebelumnya tidak terpantau.
Baca juga : Jembatan Brawijaya Ditutup 1–3 Desember, Dishub Kediri Minta Pengendara Alihkan Rute
Sebagai tindak lanjut, seluruh pasien baru langsung diarahkan untuk mendapatkan pengobatan serta pendampingan guna memutus rantai penularan. Untuk mendukung pelayanan, Tulungagung telah menyiapkan 25 puskesmas dan 5 rumah sakit sebagai fasilitas layanan HIV.
“Mayoritas kasus ditemukan pada kelompok usia produktif, dan yang terbanyak adalah ibu rumah tangga. Ini tentu berisiko menular pada anak, sehingga kami terus berupaya menggali lebih dalam kasus-kasus tersembunyi, ibarat mencairkan fenomena gunung es,” pungkasnya.***
Reporter: Mochammad Sholeh Sirri
Editor: Hadiyin





