Ponorogo, LINGKARWILIS.COM – Kabupaten Ponorogo menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional setelah resmi bergabung dalam UNESCO Creative Cities Network (UCCN), sebuah jaringan global yang menaungi 408 kota kreatif dari berbagai negara.
Capaian ini semakin mengukuhkan posisi Ponorogo setelah sebelumnya Reog Ponorogo ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage/ICH) oleh UNESCO.
Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko menyebut, pengakuan tersebut merupakan hasil kerja keras dan dedikasi panjang seluruh masyarakat dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan lokal.
“Ini kemenangan seluruh masyarakat Ponorogo. Gelar Kota Kreatif UNESCO kategori Crafts and Folk Art menjadi bentuk pengakuan dunia terhadap ekosistem budaya kita yang hidup, berkelanjutan, dan berakar kuat mulai dari seni pertunjukan, kerajinan hingga kriya,” ujarnya, dikutip dari laman resmi Pemkab Ponorogo, Sabtu (1/11/2025).
Baca juga : Dua Kartu Merah Warnai Kemenangan PSIM atas Persik Kediri 2-1
Dengan bergabungnya Ponorogo dalam jaringan kota kreatif dunia, maka kini Ponorogo menjadi salah satu daerah di dunia yang memperoleh dua pengakuan UNESCO sekaligus sebagai pemilik warisan budaya tak benda dan sebagai kota dengan ekosistem kreatif yang tumbuh dari tradisi tersebut.
“Reog Ponorogo bukan hanya sekadar seni pertunjukan, melainkan sumber inspirasi dan energi bagi pelaku kreatif lokal. Pengakuan ganda ini memperkuat citra Ponorogo di mata dunia dan membuka peluang kolaborasi, pertukaran pengetahuan, serta investasi di sektor kebudayaan,” tegas Kang Giri, sapaan akrab Bupati Sugiri.
Lebih lanjut ia menjelaskan, penilaian UNESCO terhadap Ponorogo dalam kategori Crafts and Folk Art didasarkan pada kekuatan ekosistem Reog yang mencakup aspek budaya, ekonomi, dan sosial secara menyeluruh.
Baca juga : Kejuaraan Petanque Pelajar se-Jawa Timur, Kadisdik Kota Kediri : Olahraga Harus Jadi Bagian dari Akademik
“Mulai dari pembuatan dadak merak, topeng Bujangganong, kostum, hingga perangkat gamelan semuanya saling terhubung dalam satu ekosistem kreatif yang lahir dari tradisi Reog Ponorogo,” pungkasnya.***
Reporter: Sony Dwi Prastyo
Editor: Hadiyin





