Tulungagung, LINGKARWILIS.COM – Sepanjang 2025, produksi bawang merah di Kabupaten Tulungagung tercatat masih jauh dari kata optimal. Total hasil panen selama setahun hanya mencapai 21.511 kilogram, angka yang dinilai sangat kecil dibandingkan komoditas utama seperti padi dan jagung.
Kepala Bidang Penyediaan dan Pengembangan Sarana Pertanian Dinas Pertanian Tulungagung, Muchamad Mahmudi, menjelaskan bahwa luas tanam bawang merah tahun lalu mencapai 328,70 hektare yang tersebar di 11 kecamatan. Namun, dari luasan tersebut, hanya 219,70 hektare yang berhasil dipanen.
Sebaran lahan bawang merah meliputi Kecamatan Besuki, Bandung, Pakel, Campurdarat, Kalidawir, Pucanglaban, Rejotangan, Ngunut, Sumbergempol, Boyolangu, dan Gondang. Dari seluruh wilayah itu, Kecamatan Sumbergempol menjadi penyumbang lahan terluas dengan 80 hektare, disusul Rejotangan 51 hektare, Ngunut 27 hektare, Kalidawir 19,50 hektare, Gondang 16 hektare, serta Campurdarat 13 hektare. Sementara kecamatan lainnya memiliki luasan di bawah 10 hektare.
“Tidak semua wilayah di Tulungagung menanam bawang merah, hanya 11 kecamatan saja. Terbanyak memang di Sumbergempol,” ujar Mahmudi, Sabtu (28/2/2026).
Baca juga : Bus Satria Mengaspal, Kafe Jadi Ruang Baca, Literasi Kota Kediri Naik Kelas
Menurutnya, rendahnya produksi bukan tanpa sebab. Selain keterbatasan luasan panen, masih ada petani yang membudidayakan bawang merah di lahan datar tanpa sistem bedengan dan tanpa perlindungan mulsa plastik. Padahal, komoditas hortikultura seperti bawang merah lebih ideal ditanam di lahan yang dibentuk bedengan untuk mencegah genangan air, terutama saat musim hujan.
Mahmudi menambahkan, tanaman hortikultura tergolong rentan terhadap cuaca ekstrem. Jika ditanam tanpa teknik budidaya yang tepat, risiko gagal panen cukup tinggi, terlebih saat musim penghujan yang dapat menyebabkan tanaman terendam.
Faktor lain yang memengaruhi minimnya produksi adalah rendahnya minat petani. Mayoritas petani di Tulungagung masih memilih menanam padi dan jagung yang dianggap lebih aman dan membutuhkan modal lebih terjangkau. Sementara bawang merah dinilai memerlukan biaya produksi besar serta manajemen perawatan yang lebih intensif.
Baca juga : Audiensi dengan Mahasiswa, Kapolres Kediri Kota Apresiasi Kritik PMII
Dengan berbagai kendala tersebut, Mahmudi mengakui Tulungagung masih belum mampu bersaing sebagai sentra bawang merah seperti di Nganjuk dan Probolinggo.
“Untuk menjadi sentra bawang merah masih sulit. Banyak petani kita sudah berusia lanjut dan enggan mengambil risiko menanam komoditas hortikultura,” pungkasnya.***
Reporter: Mochammad Sholeh Sirri
Editor: Hadiyin





