Ponorogo, LINGKARWILIS.COM — Kinerja sektor pertanian di Kabupaten Ponorogo menunjukkan hasil positif. Sepanjang tahun 2025, produksi padi di Bumi Reyog tercatat mencapai kisaran 468 ribu hingga 546 ribu ton gabah. Capaian tersebut mengantarkan Ponorogo masuk jajaran 10 besar daerah penghasil padi di Provinsi Jawa Timur.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo, Lisdyarita, menyampaikan bahwa tingginya produksi padi ditopang oleh luas areal tanam yang mencapai sekitar 78 ribu hektare. Dari luasan tersebut, produktivitas petani rata-rata berada pada kisaran enam hingga tujuh ton gabah per hektare dalam setiap musim panen.
“Dengan angka produktivitas tersebut, Ponorogo berhasil masuk sepuluh besar daerah penghasil padi di Jawa Timur,” ujar Lisdyarita.
Ia menjelaskan, pola tanam yang relatif intensif turut berperan besar dalam mendongkrak hasil panen. Di sejumlah wilayah, petani mampu melakukan tanam lebih dari dua kali dalam setahun, bahkan ada yang mencapai hingga empat kali. Efisiensi waktu tanam menjadi faktor kunci, karena benih sudah dipersiapkan sebelum masa panen berakhir.
“Begitu panen selesai, petani bisa langsung melakukan tanam berikutnya tanpa harus menunggu lama,” jelasnya.
Lisdyarita juga menyebutkan bahwa pola panen di Ponorogo tidak berlangsung serentak. Panen padi dapat terjadi hampir setiap bulan karena perbedaan karakteristik lahan dan ketersediaan air di masing-masing wilayah. Wilayah selatan cenderung panen bersamaan, sementara kecamatan lainnya menyesuaikan kondisi setempat.
“Panennya tidak serempak antarwilayah, menyesuaikan karakter lahan dan sumber air,” imbuhnya.
Selain fokus pada kuantitas hasil panen, Pemerintah Kabupaten Ponorogo juga mendorong peningkatan kualitas dan keberlanjutan sektor pertanian. Berbagai dukungan diberikan, mulai dari penyediaan alat dan mesin pertanian modern hingga penguatan jaringan listrik di area persawahan.
Baca juga : Dinkes Kabupaten Kediri Instruksikan Puskesmas Intensifkan Edukasi Pencegahan Super Flu
“Upaya ini diharapkan dapat menjaga produktivitas pertanian sekaligus menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian,” pungkas Lisdyarita.***
Reporter : Sony Prasetyo
Editor : Hadiyin





