BLITAR, LINGKARWILIS.COM — Peternak sapi di Kabupaten Blitar diminta meningkatkan kewaspadaan menyusul kembali merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK) di sejumlah wilayah. Hingga awal 2026, kasus PMK tercatat telah menyentuh angka puluhan dan tersebar di beberapa kecamatan.
Berdasarkan data Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar, tercatat sebanyak 72 kasus PMK ditemukan sejak awal tahun ini. Meski jumlahnya cukup signifikan, hingga kini belum dilaporkan adanya ternak yang mati akibat penyakit tersebut.
“Kami terus melakukan pemantauan langsung di lapangan, disertai sosialisasi serta langkah-langkah pencegahan agar penularan tidak meluas,” ujar Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar, Lusia Adiningtyas, Selasa (20/1/2026).
Baca juga : Kasus PMK di Kediri: 17 Ekor Sapi Dinyatakan Sembuh dari Total 91 Ternak Terpapar
Lusia menjelaskan, tidak seluruh kecamatan terdampak PMK. Dari total 22 kecamatan di Kabupaten Blitar, laporan kasus hanya ditemukan di 15 kecamatan. Dari jumlah tersebut, Kecamatan Nglegok tercatat sebagai wilayah dengan kasus terbanyak.
“Nglegok menempati urutan teratas dengan 15 kasus. Disusul Kecamatan Talun sebanyak 13 kasus dan Kesamben 12 kasus. Sementara kecamatan lainnya hanya ditemukan beberapa kasus,” jelasnya.
Ia mengakui, lonjakan kasus yang terjadi dalam kurun waktu singkat sempat menimbulkan kekhawatiran. Namun, menjelang akhir Januari, tren kasus mulai menunjukkan penurunan. Hal tersebut dinilai sebagai hasil dari upaya pencegahan dan penanganan yang dilakukan secara intensif.
Langkah pengendalian yang diterapkan antara lain vaksinasi ternak serta penerapan karantina bagi sapi yang terindikasi terpapar PMK. Hewan yang sakit diarahkan untuk ditempatkan di lokasi terpisah guna mencegah penularan ke ternak lain.
Baca juga : Gerakan Lingkungan “Save Forest 1987” Diluncurkan, Arema FC dan Aremania Gandeng Bakorwil III Malang
“Upaya ini terus kami lakukan, mengingat di Kabupaten Blitar terdapat sejumlah peternakan skala besar serta aktivitas pasar hewan pada waktu-waktu tertentu,” imbuhnya.
Dinas Peternakan dan Perikanan juga mengintensifkan edukasi kepada peternak, khususnya di sentra-sentra sapi. PMK pada ternak sapi umumnya ditandai dengan gejala pincang, penurunan nafsu makan, demam, serta luka pada mulut dan kuku. Jika tidak segera ditangani, penyakit ini berpotensi menyebabkan kematian ternak.***
Reporter: Aziz Wahyudi
Editor :Hadiyin





