KEDIRI, LINGKARWILIS.COM — Suasana penuh semangat menyelimuti Kampung Pecut, Kelurahan Kemasan, Kecamatan Kota Kediri, Minggu (20/7/2025) sore. Ribuan warga tumpah ruah memenuhi jalan untuk menyaksikan arak-arakan budaya dalam rangka Grebeg Suro sekaligus peringatan Hari Jadi Kota Kediri ke-1143.
Arak-Arakan budaya di Kampung Pecut ini menghadirkan pertunjukan spektakuler yang menonjolkan kekayaan seni tradisional dan potensi lokal.
Tercatat 250 penari pecut Samandiman, 100 pembarong, 50 barongan, serta atraksi bantengan, reog, barongsai, hingga pawai hasil bumi dari warga ikut meramaikan perhelatan ini.
Lurah Kemasan, Suntoro, mengapresiasi antusiasme warga dan menilai kegiatan ini sebagai bentuk nyata pelestarian budaya lokal.
“Ini bukan sekadar hiburan, tapi juga penguatan identitas masyarakat Kemasan, termasuk peran penting warga dalam pertanian. Gotong royong seperti inilah yang patut dijaga,” ujarnya.
Camat Kota Kediri, Bagus Hermawan Apriyanto, S.E., M.AP., turut memberikan apresiasi. Menurutnya, kegiatan ini menjadi simbol bahwa kebudayaan adalah kekuatan sosial yang menyatukan.
“Antusiasme masyarakat menjadi bukti bahwa denyut budaya di Kota Kediri masih hidup dan tumbuh bersama masyarakat,” katanya.
Sementara itu, rute arak-arakan dimulai dari halaman Kantor Kelurahan Kemasan, melintasi Jalan Joyoboyo, Jalan Hamuruk, Jalan Doho, dan kembali lagi ke titik awal. Rangkaian kegiatan berlangsung lancar dan aman, berkat pengamanan terpadu dari Babinsa, Bhabinkamtibmas, Linmas, serta personel lalu lintas dari Polsek Kediri Kota.
Baca juga : Cuaca Ekstrem, Dinkes Kabupaten Kediri Imbau Warga Waspadai Ancaman ISPA
AKP Cham Sunarko, Kanit Lantas Polsek Kediri Kota, menegaskan bahwa pengamanan dilakukan di setiap titik strategis demi kelancaran lalu lintas dan kenyamanan warga.
“Kami tempatkan personel di sejumlah persimpangan. Arak-arakan ini luar biasa dan menjadi kebanggaan kita bersama. Kami siap mendukung penuh agar berjalan tertib dan aman,” ungkapnya.
Sinergi antara warga, aparat, dan pemerintah sukses menjadikan arak-arakan di Kampung Pecut sebagai panggung pelestarian budaya yang inspiratif.***
Reporter: Agus Sulistyo Budi
Editor: Hadiyin





