Sampah Kediri Capai 850 Ton per Hari, Berpeluang Diolah Menjadi Energi Listrik

Sampah Kediri Capai 850 Ton per Hari, Berpeluang Diolah Menjadi Energi Listrik
Khusnul Arif Wakil Ketua Komisi D DPRD Propinsi Jawa Timur (ist)

Kediri, LINGKARWILIS.COM – Timbunan sampah di wilayah Kota dan Kabupaten Kediri mencapai sekitar 850 ton setiap hari. Rinciannya, Kabupaten Kediri menghasilkan sekitar 670 ton sampah per hari, sedangkan Kota Kediri sekitar 180 ton.

Besarnya volume tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber energi baru, termasuk energi listrik. Pengelolaan secara regional melalui kerja sama antardaerah di Jawa Timur dinilai dapat menjadi salah satu opsi untuk mengoptimalkan potensi tersebut.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Provinsi Jawa Timur, Khusnul Arif, mengatakan persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan tempat pemrosesan akhir (TPA). Pasalnya, pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi terus mendorong peningkatan volume sampah, sementara ketersediaan lahan untuk TPA terbatas.

“Kita saat ini mengusulkan kepada provinsi agar dilakukan kerja sama regional dalam pengelolaan sampah. Sebelumnya memang pernah ada rencana pengelolaan sampah secara regional yang melibatkan pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten dan kota,” ujarnya.

Baca juga : Bantuan Beras Pemerintah Pusat Dinilai Meringankan Beban Warga Kabupaten Kediri

Menurut Khusnul, pembahasan mengenai kerja sama regional tersebut bahkan pernah memasuki tahap pengkajian dan sempat dituangkan melalui penandatanganan oleh tiga kepala daerah. Namun, rencana itu tidak berlanjut karena terkendala kemampuan fiskal.

Meski demikian, ia menilai peluang untuk menghidupkan kembali skema kerja sama tersebut masih terbuka. Salah satu opsi yang didorong adalah pengolahan sampah menjadi energi listrik dengan dukungan pemerintah pusat.

Menurutnya, sejumlah daerah di Jawa Timur kini telah masuk dalam tahapan pengembangan program pengolahan sampah menjadi energi.

“Tetapi di sini memang ada syarat dan ketentuan, termasuk timbulan sampah setiap harinya harus memenuhi standar minimum,” jelasnya.

Ia menyebut volume sampah di masing-masing wilayah menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.

“Kalau kita 670, tapi 180 ini sepertinya belum memenuhi kuota untuk kerja sama yang kemudian difasilitasi pemerintah pusat,” katanya.

Khusnul menegaskan, penanganan sampah tidak cukup hanya dilakukan setelah sampah menumpuk. Upaya untuk mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya juga perlu diperkuat.

Terbatasnya kapasitas TPA, sementara jumlah penduduk dan kegiatan ekonomi terus berkembang, membuat produksi sampah berpotensi semakin meningkat.

Baca juga : Rumah Terbakar, ODGJ di Ringinrejo Kediri Dievakuasi ke Shelter Dinsos Grogol

“Seiring dengan pertumbuhan masyarakat, pertumbuhan ekonomi, persoalan sampah semakin menguat. Maka harus ada antisipasi dan upaya-upaya,” ungkapnya.

Salah satu langkah yang dapat ditempuh, lanjut Khusnul, adalah memperkuat aturan mengenai pengurangan sampah, termasuk pembatasan penggunaan plastik sekali pakai. Edukasi kepada masyarakat juga perlu dilakukan secara berkelanjutan agar warga terbiasa memilah sampah sejak dari rumah.

Sampah organik, misalnya, dapat diolah menjadi kompos. Sedangkan berbagai material yang masih mempunyai nilai ekonomi dapat dipisahkan untuk digunakan kembali maupun didaur ulang.

“Sampah organik, misalnya, dapat diolah menjadi kompos. Sementara material tertentu yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dipilah untuk dimanfaatkan kembali atau didaur ulang,” jelasnya.

Terkait pemanfaatan sampah sebagai bahan baku pembangkit listrik, Khusnul menjelaskan bahwa tidak semua jenis sampah dapat langsung digunakan. Sampah perlu melalui proses pemilahan dan pengolahan terlebih dahulu untuk menentukan material yang memenuhi kriteria.

“Untuk diolah menjadi sumber listrik tentunya ada kriteria sampah tertentu. Jadi begitu sampai di TPA ini ada pemilahan, ada pemrosesan, mana yang bisa digunakan. Karena itu, pemilahan sampah sejak dari rumah tangga maupun tempat penampungan sementara (TPS) menjadi penting,” terangnya.

Ia menambahkan, pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik di sejumlah daerah masih berlangsung. Salah satu contoh fasilitas yang telah beroperasi berada di Benowo, Surabaya, yang telah memiliki pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSA).

“Yang sudah berjalan di Benowo, Surabaya, itu sudah ada PLTSA,” ujarnya.

Khusnul menilai peluang membangun pengelolaan sampah secara regional di wilayah Kediri masih terbuka. Namun, realisasinya membutuhkan pembahasan dan kajian lebih lanjut yang melibatkan pemerintah kabupaten, pemerintah kota, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, serta pihak terkait lainnya.

Selain persoalan volume sampah, aspek teknis, pembiayaan, regulasi, dan mekanisme kerja sama antardaerah juga perlu dipersiapkan secara matang agar program tersebut dapat berjalan.

“Peluang pengelolaan sampah regional di Kediri tetap terbuka. Namun, realisasinya membutuhkan pembahasan lebih lanjut antara pemerintah daerah, pemerintah provinsi, serta pihak terkait lainnya. Selain memastikan volume sampah memenuhi ketentuan, aspek teknis, pembiayaan, regulasi, dan mekanisme kerja sama antardaerah juga perlu dikaji secara matang,” pungkasnya.***

Reporter : Bakti Wijayanto

Editor : Hadiyin

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *