LINGKARWILIS.COM – Ibrahim Sjarief Assegaf, suami dari jurnalis senior Najwa Shihab dikabarkan meninggal dunia pada Selasa, 20 Mei 2025.
Melansir dari berbagai sumber, suami Najwa Shihab meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) Mahar Mardjono, Jakarta.
Asisten Najwa Shihab, Caca menyampaikan bahwa Ibrahim Sjarief meninggal dunia usai mengalami stroke pendarahan otak.
Sebahaya apa sih sebenarnya penyakit stroke yang membuat suami dari Najwa Shihab ini meninggal dunia?
Dalam artikel ini kami akan membahas tentang penyakit stroke di usia muda yang diderita oleh suami Najwa Shihab.
Najwa Shihab Terlihat di Rumah Duka, Tidak Sedang Naik Haji!
Apa Itu Stroke?
Melansir dari laman RS Pondok Indah, stroke adalah gangguan fungsi otak yang terjadi secara tiba-tiba dan ditandai oleh gejala klinis yang berlangsung lebih dari 24 jam.
Serangan penyakit ini muncul ketika aliran darah yang menuju ke otak terganggu atau menurun.
Berdasarkan penyebabnya, stroke dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu stroke iskemik yang disebabkan oleh penyumbatan, dan stroke hemoragik yang terjadi akibat pecahnya pembuluh darah.
Sebanyak 12 persen kasus stroke disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah, sementara 86 persen lainnya disebabkan oleh penyumbatan.
Gaya hidup masyarakat modern yang semakin sibuk dan dipenuhi tekanan turut memberikan kontribusi terhadap peningkatan kasus stroke.
Stres Menjadi Salah Satu Penyebab Terjadinya Stroke
Ketika seseorang mengalami stres, tubuh akan memproduksi beberapa hormon salah satunya adalah kortisol.
Kortisol merupakan hormon stres yang dapat memengaruhi keseimbangan fungsi organ tubuh.
Hormon ini juga berdampak pada peningkatan tekanan darah dan denyut jantung, serta dapat memicu terjadinya aterosklerosis pada pembuluh darah.
Karena itu, jika stres tidak ditangani dengan baik dan disertai dengan faktor risiko lain seperti tingginya kadar kolesterol, riwayat hipertensi, diabetes, dan kurangnya aktivitas fisik, maka resiko terkena stroke akan meningkat.
Aterosklerosis yang terjadi pada pembuluh darah menyebabkan pembuluh darah menjadi lebih kaku dan rapuh.
Hal ini membuat seseorang lebih rentan mengalami pecah pembuluh darah atau pelepasan sumbatan, yang akhirnya menyebabkan penyumbatan aliran darah ke otak.
Jika pembuluh darah tersumbat, darah tidak mampu mengalirkan nutrisi ke bagian otak yang membutuhkannya, sehingga jaringan otak di wilayah tersebut akan mati.
Sementara itu, apabila pembuluh darah pecah, darah akan membanjiri area di sekitarnya dan membentuk gumpalan yang mengganggu fungsi organ. Kondisi ini bahkan bisa menimbulkan kecacatan permanen pada penderita.
Sebanyak dua per tiga penderita stroke mengalami kecacatan seumur hidup, dan sepertiga dari jumlah tersebut mengalami gangguan berbicara, meskipun telah menjalani pengobatan dan terapi.
Stroke Bukan Hanya Dialami oleh Orang Tua
Stroke tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga dapat dialami oleh anak-anak.
Perbedaannya, stroke pada anak-anak atau remaja umumnya disebabkan oleh kelainan pembuluh darah atau cacat bawaan sejak lahir, seperti aneurisma.
Kondisi ini dapat terdeteksi sejak dini, salah satunya dengan melakukan pemeriksaan MRA otak.
Orang tua disarankan lebih waspada apabila anak sering mengeluhkan sakit kepala hebat yang terjadi berulang kali.
Sementara itu, pada orang yang berada di usia produktif, stroke lebih sering dipicu oleh gaya hidup yang tidak sehat.
Pola gaya hidup yang mempengaruhi resiko stroke diantaranya pola makan tidak teratur, asupan gizi tidak seimbang, kebiasaan merokok, malas berolahraga, obesitas, serta kurangnya aktivitas fisik.
Cara Mengenali Stroke di Usia Muda
Untuk mendeteksi apakah seseorang mengalami stroke, kuncinya adalah mengenali gejala yang muncul secara tiba-tiba.
Gejala mendadak ini dapat dikenali melalui enam indikator yang dirangkum dalam akronim “SeGeRa Ke RS”.
Keenam indikator tersebut meliputi perubahan mendadak pada senyum (Se), gerakan (Ge), bicara (Ra), kebas atau kesemutan (Ke), penglihatan rabun (R), dan sakit kepala (S).
Jika mendapati perubahan mendadak seperti indikasi diatas, maka kondisi tersebut patut dicurigai sebagai gejala stroke.
Apabila Anda atau orang terdekat mengalami tanda tersebut, segera konsultasikan ke dokter spesialis saraf atau bawa ke unit gawat darurat bila kondisinya memburuk.
Penanganan terbaik untuk mencegah komplikasi berat akibat stroke adalah dalam waktu kurang dari lima jam sejak gejala pertama muncul.
Penulis: Rafika Pungki Wilujeng
Editor: Shadinta Aulia Sanjaya





