KEDIRI, LINGKARWILIS.COM – Kecintaan Sukaji terhadap seni bonsai bermula sejak dirinya masih duduk di bangku SMP pada tahun 1992. Saat itu, ia mengikuti kegiatan studi wisata ke Taman Kyai Langgeng di Yogyakarta. Dari kunjungan tersebut, ia mendapatkan inspirasi yang kemudian mengantarkannya menekuni dunia bonsai hingga lebih dari tiga dekade.
Sukaji, warga Dusun Sumberbahagia, Desa Gadungan, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, menceritakan bahwa saat berkeliling taman wisata tersebut ia melihat sebuah pohon asam kecil yang tumbuh di sela batu karang. Meski hanya setinggi sekitar 50 sentimeter, pohon itu memiliki lekukan batang yang indah dan tampak alami.
Ia pun mengamati pohon tersebut dengan saksama, mulai dari bagian akar hingga pucuk. Menurutnya, bentuk unik pohon itu terbentuk secara alami, bukan hasil rekayasa manusia. Momen itu kemudian diabadikannya melalui foto untuk dipelajari kembali saat pulang ke rumah.
Sepulang dari Yogyakarta, Sukaji mulai mencari benih asam Jawa untuk ditanam dan dirawat sendiri. Seiring berjalannya waktu, pohon tersebut tumbuh dengan baik, lalu mulai ia bentuk menjadi bonsai.
Baca juga : Dalam Sepekan, Damkar Kabupaten Kediri Amankan Lima Ular Piton Berukuran Besar
“Sudah sekitar 33 tahun saya menekuni bonsai, terutama dari jenis asam Jawa, kulmus, dan bougenvil dengan ukuran sekitar 40 sentimeter. Dari situ saya terus bereksplorasi, membentuk dan menata pohon agar tumbuh sesuai dengan konsep yang saya inginkan,” ujarnya kepada Koran Memo.
Di halaman rumahnya yang asri, puluhan bonsai tertata rapi. Tanaman-tanaman itu dirawat dengan penuh ketelatenan hingga menghasilkan bentuk yang artistik dan menarik.
Meski beberapa kali ada orang yang menawar dengan harga jutaan rupiah, Sukaji memilih tidak menjual koleksi bonsainya. Ia lebih ingin menikmati hasil karya dan proses panjang yang telah dilalui dalam merawat tanaman tersebut.
“Keindahan bonsai ini membuat pikiran terasa ayem dan tenang. Apalagi semuanya hijau, jadi menyejukkan mata. Banyak orang datang melihat dan kagum dengan proses kreatif yang saya kembangkan,” ungkapnya.
Sukaji mengaku terus belajar dari berbagai referensi bonsai, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, untuk mengembangkan teknik dan kreativitasnya. Hingga kini, ia masih aktif bereksperimen dengan berbagai pola pembentukan pohon.
“Bonsai tertua yang saya miliki usianya sekitar 30 tahun,” tambahnya.***
Reporter: Baktiar
Editor : Hadiyin





