LINGKARWILIS.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung mencatat sejumlah kasus leptospirosis sepanjang tahun 2024. Dalam periode ini, dua petani dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi leptospirosis, yang disebabkan oleh bakteri leptospira.
Desi Lusiana Wardani, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) di Dinkes Tulungagung, mengungkapkan bahwa dalam delapan bulan terakhir pihaknya telah mengidentifikasi 16 kasus leptospirosis di berbagai wilayah Kabupaten Tulungagung.
Dari jumlah tersebut dua kasus berakhir dengan kematian yang disebabkan oleh infeksi bakteri leptospira yang umumnya ditularkan melalui urine hewan terinfeksi, seperti tikus.
“Totalnya ada 16 kasus leptospirosis di Tulungagung sepanjang tahun 2024. Ada dua korban diantaranya yang meninggal dunia,” Jelas Desi Lusiana Wardani, Minggu (25/8/2024).
SLBN Campurdarat Tulungagung Gelar Pentas Seni Khusus untuk Rayakan Hari Kemerdekaan ke-79
Untuk bulan Agustus 2024 saja, ada tiga kasus leptospirosis yang ditemukan dengan satu kasus di antaranya berakhir fatal. Jika dibandingkan dengan tahun 2023, jumlah kasus dan angka kematian tetap konsisten.
Kedua korban yang meninggal adalah petani, sebuah profesi yang berisiko tinggi terkena leptospirosis. Hal ini disebabkan oleh kemungkinan terpapar bakteri melalui kontak dengan urine hewan atau lewat air, tanah, dan makanan yang tercemar.
“Karena pekerjaan petani yang ke sawah itu bersinggungan dengan kobangan air dan tanah yang bisa saja terkontaminasi urine hewan terinfeksi leptospira,” tambah Desi.
Menanggapi hal ini, Dinkes Tulungagung menghimbau petani untuk lebih memperhatikan kebersihan setelah bekerja di sawah. Petani juga disarankan untuk menggunakan sepatu boot dan sarung tangan guna mengurangi risiko infeksi.
Jombang Geger! Ayah Kandung Tega Pukul Anak Sendiri hingga Ancam Akan Dibunuh
Desi juga menyebutkan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan serta Dinas Pertanian untuk memberikan edukasi tentang pencegahan leptospirosis kepada petani dan peternak.
Edukasi ini mencakup pentingnya mencuci tangan dan kaki dengan sabun serta menggunakan perlindungan diri saat bekerja di sawah.
“Kebersihan adalah kunci untuk melindungi diri dari bakteri leptospira, dan penggunaan perlindungan seperti sepatu boot sangat dianjurkan saat bekerja di sawah,” pungkasnya.
“Contohnya seperti mencuci tangan dan kaki menggunakan sabun. Soalnya kebersihan itu penting dan menjadi perlindungan utama dari bakteri. Selain itu juga menggunakan perlindungan diri ketika di sawah, seperti mengenakan sepatu boot,” Tutupnya.





