TEL AVIV, LINGKARWILIS.COM – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan menghentikan serangan militer di Jalur Gaza. Dalam konferensi pers pada Rabu (21/5), ia juga menolak setiap kesepakatan yang bertujuan mengakhiri konflik secara menyeluruh.
“Kami meyakini masih ada sekitar 20 sandera yang hidup di Gaza, sementara 38 lainnya kemungkinan sudah meninggal,” ujar Netanyahu, dikutip dari Anadolu, Kamis (22/5).
Pernyataan ini muncul di tengah tekanan internasional atas tingginya jumlah korban sipil dan krisis kemanusiaan yang terus memburuk. Data dari berbagai organisasi hak asasi manusia menunjukkan bahwa lebih dari 10.100 warga Palestina saat ini ditahan di Israel, banyak di antaranya dilaporkan mengalami penyiksaan, kelaparan, serta pengabaian layanan medis.
Baca juga : Belum Juga Ketemu, Pencarian Mbah Tekad Dihentikan Sementara, Ini Komentar BPBD Kabupaten Kediri
Netanyahu mengisyaratkan bahwa Israel hanya akan mempertimbangkan gencatan senjata bersifat sementara, jika hal itu memungkinkan pembebasan sandera lebih lanjut.
“Jika ada peluang untuk jeda sementara demi memulangkan lebih banyak sandera – saya tekankan, hanya sementara – maka kami siap mempertimbangkannya,” ujarnya.
Sementara itu, Hamas telah beberapa kali menawarkan pembebasan seluruh sandera Israel dalam satu kali pertukaran, dengan syarat dihentikannya agresi militer, penarikan pasukan Israel dari Gaza, serta pembebasan ribuan tahanan Palestina.
Baca juga : SK CPNS dan PPPK Kabupaten Kediri Siap Diserahkan, Total 768 Formasi Lolos
Namun, Netanyahu menolak tawaran tersebut dan tetap bersikukuh pada syarat pelucutan senjata kelompok perlawanan serta kontrol penuh Israel atas wilayah Gaza.
Situasi di Gaza semakin memburuk, dengan serangan udara dan darat Israel yang terus berlangsung. Organisasi hak asasi manusia di Palestina dan Israel mendesak agar hukum internasional dihormati dan keselamatan warga sipil dijadikan prioritas utama.***
Editor : Hadiyin





