LINGKARWILIS.COM – Panglima Militer Israel, Eyal Zamir, melontarkan kritik tajam kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang dinilai tidak memberikan arahan jelas terkait operasi militer di Jalur Gaza. Pernyataan ini disampaikan di tengah laporan meningkatnya jumlah prajurit yang meninggalkan unit tempur akibat trauma dan tekanan psikologis.
Dilansir dari laman Minanews, Zamir menegaskan bahwa pemerintah belum menyampaikan strategi konkret mengenai langkah lanjutan.
“Perdana menteri tidak menjelaskan apa yang akan terjadi, sehingga kami tidak tahu apa yang perlu dipersiapkan,” ujarnya.
Zamir juga menyinggung wacana pembentukan pemerintahan militer di Gaza. Ia menekankan perlunya kejelasan sikap pemerintah agar tujuan operasi dapat dipahami publik.
Baca juga : Dari Jakarta Menuju Bali, Pelari Ultra Marathon Tempuh 1.600 Km Demi Anak-Anak Gaza
Selain itu, ia menyoroti distribusi bantuan yang digagas Amerika Serikat melalui Gaza Humanitarian Foundation. Menurutnya, upaya tersebut tidak efektif meski jumlah pusat distribusi ditingkatkan dari empat menjadi 12 lokasi.
Sementara itu, laporan Haaretz menyebutkan adanya krisis moral dan psikologis serius di tubuh militer Israel. Ribuan tentara disebut mundur dari unit tempur atau dialihkan ke tugas non-tempur karena trauma berat dan luka batin akibat tindakan yang bertentangan dengan nilai pribadi.
Beberapa kesaksian prajurit mengungkap pengalaman pahit, mulai dari insiden penembakan anak-anak secara tidak sengaja, perintah menembak warga sipil di sekitar konvoi bantuan, hingga meningkatnya percobaan bunuh diri di kalangan brigade tempur.
Baca juga : PBB : Israel Cegah 100 Dokter Masuk ke Gaza Sejak Maret
Di sisi lain, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan serangan Israel terhadap lokasi distribusi bantuan telah menewaskan lebih dari 2.400 warga sipil dan melukai lebih dari 18.000 orang. Total korban jiwa sejak Oktober 2023 disebut mendekati 65.000 orang.
Sementara itu, keluarga tawanan yang masih berada di Gaza bersama kelompok oposisi menuding Netanyahu sengaja memperpanjang perang demi kepentingan politik. Saat ini diperkirakan masih ada 48 warga Israel yang ditawan, dengan sekitar 20 orang diyakini masih hidup.***
Editor : Hadiyin





