LINGKARWILIS.COM – Upaya pembersihan sampah yang menumpuk di Pantai Gemah, Kabupaten Tulungagung, resmi dimulai. Pemerintah setempat mendatangkan dua alat berat untuk mempercepat proses pembersihan yang diperkirakan memakan waktu hingga 10 hari.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Gemah, Imam Rojikin, mengungkapkan bahwa kondisi pantai yang dipenuhi sampah ini telah berlangsung hampir satu bulan. Ia mengapresiasi respons cepat dari Pemkab Tulungagung dan Pemprov Jawa Timur yang turut membantu proses pembersihan.
Tumpukan sampah yang mengotori bibir pantai diketahui terdiri dari limbah rumah tangga dan potongan kayu. Imam menjelaskan bahwa meskipun alat berat sudah dikerahkan, volume sampah yang begitu besar tetap membuat proses pembersihan memakan waktu lama.
“Sesuai pengalaman sebelumnya, pembersihan tetap butuh waktu 10 hari karena jumlah sampah yang sangat banyak,” ujar Imam pada Sabtu (7/6/2025).
WNA Asal Filipina yang Langgar Aturan Imigrasi Diserahkan ke Rudenim Surabaya oleh Imigrasi Kediri
Ia menambahkan, kondisi pantai yang kotor membuat wisatawan tidak bisa berenang, yang berdampak pada anjloknya jumlah pengunjung. Imam menyebut kerugian para pelaku wisata bisa mencapai 70 persen karena Pantai Gemah dikenal sebagai destinasi wisata air.
Fenomena sampah kiriman ini, lanjutnya, hampir selalu terjadi saat musim hujan. Terowongan Niyama menjadi jalur utama aliran sampah yang berakhir di Pantai Gemah, menyebabkan bibir pantai sepanjang satu kilometer tertutup limbah setiap tahunnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengolahan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur, Subarja menekankan pentingnya kolaborasi antar pihak dalam menangani persoalan sampah ini.
Ia menyebutkan bahwa meski wilayah pesisir selatan berada di bawah kewenangan provinsi, keterlibatan pemerintah daerah dan komunitas lokal sangat diperlukan.
Modus Toko Bangunan Fiktif, Pria di Malang Tipu Distributor Semen Rp1,9 Miliar
“Pantai Gemah secara kontur menyerupai teluk, sehingga mudah menerima kiriman sampah dari sungai. Apalagi saat musim hujan. Maka dari itu, dibutuhkan kolaborasi dan kontinuitas dalam pembersihan,” ujarnya.
Menurut data terbaru, sebanyak 1,2 ton sampah telah berhasil diangkat dari kawasan pantai. Proses pembersihan melibatkan berbagai unsur, termasuk organisasi perangkat daerah (OPD) dan relawan.





