Blitar, LINGKARWILIS.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar mencatat temuan 92 kasus HIV dalam kurun waktu enam bulan, terhitung sejak Januari hingga Juni 2025. Fakta ini menunjukkan bahwa penyebaran HIV di wilayah tersebut masih perlu perhatian serius, terutama pada kelompok berisiko tinggi.
Kepala Dinkes Kabupaten Blitar, dr. Christine Indrawati, mengungkapkan bahwa kasus HIV ditemukan di berbagai kecamatan melalui pemeriksaan di fasilitas layanan kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit pemerintah. Dari total 92 kasus, 62 di antaranya terjadi pada laki-laki dan 30 kasus lainnya pada perempuan.
“Yang paling banyak berasal dari kelompok lelaki suka lelaki atau LSL. Ini menjadi perhatian khusus kami karena tren ini menunjukkan tingginya potensi penularan di kelompok tersebut,” jelas dr. Christine, Jumat (4/7/2025).
Baca juga : Motor Tergelincir Saat Salip Truk, Kakek di Kediri Tewas di Tempat
Dilihat dari kelompok usia, mayoritas penderita berada pada rentang usia produktif. Sebanyak 50 kasus terjadi pada usia 24–49 tahun, 23 kasus pada usia 50 tahun ke atas, dan 16 kasus pada usia 20–24 tahun. Selain itu, dua kasus ditemukan pada usia 15–19 tahun, dan satu kasus bahkan teridentifikasi pada balita usia 0–4 tahun. Kasus terakhir diduga tertular dari orang tua yang sudah terinfeksi.
Lebih lanjut, dr. Christine merinci kategori temuan berdasarkan latar belakang kelompok masyarakat. Populasi umum menyumbang 16 kasus, diikuti pasangan dengan risiko tinggi (15 kasus), kelompok LSL (14 kasus), pekerja seks komersial (11 kasus), pasien dengan HIV dan TB (9 kasus), calon pengantin (9 kasus), pasangan dari ODHIV (8 kasus), ibu hamil (4 kasus), wanita pekerja seks (3 kasus), dan waria (3 kasus).
“Edukasi dan sosialisasi terus kami lakukan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut. Kami fokus pada pendampingan, pengawasan, serta menggandeng berbagai elemen yang peduli terhadap isu ini,” tegasnya.
Baca juga : Bupati Kediri, Mas Dhito, Pastikan Pembangunan Stadion Gelora Dhaha Jayati Rampung Akhir 2027
Ia juga menambahkan bahwa tanpa upaya penanganan yang intensif, jumlah kasus HIV dikhawatirkan akan terus meningkat. Jika tidak segera ditangani, infeksi HIV berisiko berkembang menjadi AIDS, kondisi yang jauh lebih kompleks dan mematikan.
“HIV bukan hanya persoalan medis, tapi juga menyangkut pemahaman dan kesadaran masyarakat. Karena itu, edukasi adalah kunci utama,” tutup dr. Christine.***
Reporter : Aziz Wahyudi
Editor : Hadiyin





