Tulungagung, LINGKARWILIS.COM — Pemerintah Kabupaten Tulungagung melalui Dinas Kesehatan menggelar Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) yang menyasar lebih dari 183 ribu pelajar jenjang SD hingga SMA. Langkah ini diambil untuk mendorong deteksi dini berbagai penyakit serta meningkatkan kesadaran pentingnya menjaga kesehatan sejak usia sekolah.
Plt Kepala Dinkes Tulungagung, Anna Sapti Saripah, menjelaskan bahwa kegiatan ini telah berjalan sejak awal Juli 2025 dan ditujukan tidak hanya untuk masyarakat umum, tetapi secara khusus juga mencakup kalangan pelajar.
“Pemeriksaan meliputi status gizi, tekanan darah, kadar gula, hingga skrining penyakit serius seperti TBC, hepatitis B dan C, serta diabetes,” ujar Anna, Rabu (30/7/2025).
Untuk jenjang SMP dan SMA, lanjutnya, juga dilakukan pengecekan pendengaran, penglihatan, dan anemia. Fokus utama saat ini adalah menemukan sebanyak mungkin kasus TBC agar bisa segera ditangani, sejalan dengan target nasional eliminasi TBC pada 2030.
Baca juga : Karnaval 17 Agustus di Kota Kediri Boleh Gunakan Sound System, Asal
Per 30 Juli, sebanyak 91.905 pelajar telah menjalani pemeriksaan, atau sekitar 5,53 persen dari total sasaran. Targetnya, program ini rampung di akhir 2025. Namun jika belum selesai, pelaksanaan akan dilanjutkan hingga semester pertama tahun 2026 sesuai kapasitas masing-masing puskesmas.
Mengenai data hasil pemeriksaan, Anna menyebutkan bahwa setiap pelajar dan orang tuanya akan mendapatkan informasi kondisi kesehatan secara pribadi. Namun, rekapitulasi temuan secara keseluruhan saat ini masih dalam proses input oleh petugas di lapangan.
“Nanti akan diketahui penyakit apa yang paling banyak ditemukan. Tapi untuk saat ini, pendataan masih terus berlangsung,” jelasnya.
Baca juga : Lengah Saat Berkendara, Pemuda Tabrak Pesepeda di Tulungagung, Dua Orang Terluka
Program ini diberikan secara cuma-cuma dan terbuka bagi seluruh pelajar di Tulungagung. Selain menjadi upaya pencegahan, PKG juga diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk rutin memeriksakan kesehatan setidaknya setahun sekali.
“Kalau kondisi anak sehat, tentu akan terus dijaga. Namun bila ditemukan gejala atau risiko penyakit, bisa segera ditindaklanjuti sebelum menjadi kronis,” tutup Anna.***
Reporter: Mochammad Sholeh Sirri
Editor: Hadiyin





