LINGKARWILIS.COM – Nama Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali, sudah lama mendunia. Desa ini dikenal bukan hanya karena keindahan dan kebersihannya, tetapi karena warisan filosofi hidup yang membuatnya dinobatkan sebagai salah satu desa terbersih di dunia versi UNESCO. Menariknya, kebersihan itu bukanlah tujuan utama melainkan hasil dari tatanan nilai dan disiplin sosial yang berakar dalam kebudayaan leluhur.
Sebuah video dengan judul “Desa Terbersih di Dunia ada di Indonesia” yang diunggah di Kanal Youtube @putri comel 1401 memperlihatkan harmoni menakjubkan di Penglipuran.
Rumah-rumah berjajar rapi, jalanan bersih tanpa kendaraan bermotor, serta suasana damai yang terasa menyatu dengan alam. Semua itu lahir dari sebuah pandangan hidup kuno yang disebut Tri Mandala, filosofi ruang yang mengatur manusia, alam, dan spiritualitas secara seimbang.
Di Penglipuran, setiap bangunan berdiri mengikuti pola Tri Mandala, pembagian ruang yang bukan hanya mengatur wilayah, tetapi juga mencerminkan keseimbangan hidup:
-
Utama Mandala (Zona Suci)
Di bagian paling hulu berdiri pura-pura tempat pemujaan kepada para dewa. Inilah pusat spiritualitas, simbol bahwa nilai-nilai luhur harus ditempatkan di posisi tertinggi dalam kehidupan. -
Madya Mandala (Zona Kehidupan)
Inilah area tempat penduduk tinggal, terdiri dari sekitar 70 rumah adat yang tersusun simetris. Tidak ada mobil yang diizinkan melintas di jalan utama, membuat suasana tetap sejuk dan tenang di suhu 18–25°C. Keseragaman arsitektur menjadi lambang kesetaraan sosial di antara warga. -
Nista Mandala (Zona Akhir)
Terletak di bagian hilir, kawasan ini diperuntukkan bagi tempat pemakaman. Di sini, segala yang bersifat fana ditempatkan di posisi terendah, melambangkan siklus hidup yang seimbang antara suci, manusia, dan kematian.
Masuk ke dapur tradisional Penglipuran, Anda akan menemukan satu hal unik pintu masuknya dibuat rendah, memaksa siapa pun yang masuk untuk menunduk. Sikap sederhana itu menanamkan rasa hormat kepada orang tua yang biasanya beristirahat di dekat tungku.
Lebih dari sekadar tempat memasak, Paon juga berfungsi sebagai tempat tidur dan penyimpanan bahan pangan. Asap dari tungku dimanfaatkan untuk mengeringkan daging atau jagung. Sistem ini menunjukkan efisiensi ruang dan sumber daya —sebuah bentuk minimalisme alami yang sudah diterapkan jauh sebelum istilah itu menjadi tren global.
Kebersihan dan keteraturan Penglipuran dijaga melalui Awig-Awig, aturan adat yang diterapkan secara turun-temurun. Beberapa prinsip penting di antaranya:
-
Larangan Sampah Sembarangan
Pemilahan sampah organik dan non-organik dilakukan secara ketat, bukan karena paksaan, melainkan kesadaran bersama. -
Pelestarian Hutan Bambu
Sekitar 45 hektare wilayah desa merupakan hutan bambu suci. Penebangan hanya dilakukan pada hari baik sesuai adat. Alam bukanlah komoditas, melainkan warisan yang harus dijaga. -
Sanksi Adat Tegas
Pelanggaran terhadap aturan desa dapat dikenai denda atau ritual pembersihan. Aturan ini menjaga agar komunitas tetap disiplin dan harmonis.
Di tengah dunia yang sibuk mengejar modernitas, Penglipuran berdiri sebagai simbol ketenangan mengajarkan bahwa hidup yang bersih dimulai dari hati yang tertib. Bila satu desa bisa menjaganya selama ratusan tahun, bukankah kita pun bisa memulainya dari rumah sendiri?***
Penulis: Kayisatul Masruroh
Editor : Hadiyin



