Batu, LINGKARWILIS.COM – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-24 Kota Batu, Kelompok Kerja (Pokja) Peningkatan Status Kota Batu menggelar sarasehan bertema “Refleksi Menuju Seperempat Abad Kota Batu Sebagai Daerah Otonom” di Graha Pancasila Balai Kota Among Tani, Selasa (14/10/2025).
Acara ini menjadi momentum refleksi untuk meninjau kembali perjalanan, capaian, serta tantangan pembangunan Kota Batu sejak resmi menjadi daerah otonom pada tahun 2001.
Sejumlah narasumber hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Rektor Universitas Negeri Malang Prof. Dr. Hariyono, Ketua Advokasi Pokja Peningkatan Status Kota Batu Dr. Slamet Hendro Kusumo, serta Dekan Fakultas Ilmu Administrasi UNISMA Dr. Slamet Muchsin, M.Si. yang bertindak sebagai moderator.
Ketua Panitia, Drs. Sumiantoro, dalam laporannya menyampaikan bahwa sarasehan ini merupakan ajang penting untuk menghidupkan kembali semangat awal perjuangan berdirinya Kota Batu. Ia menekankan agar arah pembangunan ke depan tetap berpihak kepada masyarakat dan berorientasi jangka panjang.
“Pokja harus tetap menjaga watak kritisnya. Dulu ketika status Kota Batu diperjuangkan, kami memikul tanggung jawab besar. Semangat itu jangan sampai padam agar cita-cita awal pembentukan kota ini tetap terjaga,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Presidium Pokja Andrek Prana memberikan apresiasi kepada para tokoh dan pemimpin Kota Batu dari masa ke masa, mulai dari Imam Kabul hingga Aries Agung Paewai. Namun, ia mengingatkan bahwa pembangunan kota perlu memiliki visi besar yang konsisten, tidak bergantung pada siapa wali kotanya.
Baca juga : Pura-pura Jadi Wali Santri, Pencuri Spesialis Ponpes Ditangkap di Kepung Kediri
“Kota Batu membutuhkan konsep besar yang menjaga ruang hidup dan bisa diteruskan siapa pun pemimpinnya. Dulu kami membawa gagasan sederhana namun bermakna: ‘Batu Kota Bernuansa Desa.’ Itulah roh yang seharusnya tetap dijaga,” tegasnya.
Andrek juga menekankan pentingnya pelestarian karakter pedesaan dan budaya lokal sebagai identitas utama Kota Batu. Untuk itu, Pokja berencana melakukan reorganisasi agar lebih terbuka terhadap keterlibatan generasi muda dalam pembangunan daerah.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pelayanan publik, Polres Batu turut memberikan kado istimewa menjelang HUT Kota Batu berupa pembangunan Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) di tingkat kecamatan. Fasilitas ini dijadwalkan diresmikan sehari setelah sarasehan berlangsung.
Dalam kesempatan yang sama, Walikota Batu Nurochman menegaskan pentingnya menjaga jati diri kota yang lahir dari semangat masyarakat.
“Kita patut berterima kasih kepada para pendiri dan pemimpin terdahulu yang telah membangun fondasi kokoh. Di usia 24 tahun ini, kita perlu merenung: apakah Kota Batu sudah berjalan sesuai cita-cita pendiriannya?” tutur Nurochman.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan akar budaya dan kearifan lokal.
“Bangun Kota Batu dengan karakter kita sendiri. Jadilah promotor kota ini, baik lewat tutur, media sosial, maupun tindakan nyata. Kolaborasi adalah kunci kemajuan,” tandasnya.
Melalui sarasehan reflektif ini, Pokja berharap muncul kesepahaman lintas generasi untuk meneguhkan kembali filosofi “Batu Kota Bernuansa Desa” — sebuah pandangan yang menempatkan kearifan lokal, harmoni dengan alam, dan semangat gotong royong sebagai dasar pembangunan berkelanjutan menuju seperempat abad Kota Batu.***
Reporter: Arief Juli Prabowo
Editor :Hadiyin






