Nganjuk, LINGKARWILIS.COM – Dorongan agar aktivis buruh legendaris Marsinah memperoleh gelar Pahlawan Nasional dinilai datang pada waktu yang paling tepat. Sejumlah kalangan menilai, penganugerahan tersebut tidak hanya menjadi bentuk penghormatan terhadap perjuangan Marsinah, tetapi juga mencerminkan komitmen Indonesia terhadap nilai-nilai hak asasi manusia (HAM) yang kini menjadi perhatian besar di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Anggota Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP), Dr. M. Alfan Alfian, menyebut bahwa saat ini merupakan momentum bersejarah bagi pengakuan Marsinah sebagai tokoh nasional yang berjasa di bidang kemanusiaan.
“Ini waktu yang tepat. Marsinah bukan sekadar tokoh nasional, tapi sudah diakui secara internasional karena perjuangannya menyangkut isu-isu hak asasi manusia,” ungkap Dr. Alfan.
Ia menambahkan, kasus Marsinah yang mendapat perhatian dunia, termasuk proses autopsi dan pembongkaran makamnya, telah menjadi simbol perjuangan buruh dan keadilan.
Baca juga : Penggunaan Knalpot Brong di Kota Kediri Mulai Menurun, Polres Intensifkan KRYD Akhir Pekan
Menurutnya, keputusan menjadikan Marsinah sebagai pahlawan nasional akan sejalan dengan langkah Presiden Prabowo yang baru-baru ini berbicara di Sidang Umum PBB dengan menekankan pentingnya hak asasi manusia, termasuk isu kemanusiaan global seperti di Gaza.
“Kalau Marsinah diangkat jadi pahlawan nasional, itu akan menjadi langkah berani dan tepat. Sejalan dengan pidato Pak Prabowo di PBB yang menyoroti isu kemanusiaan. Ini bisa jadi terobosan penting,” ujarnya.
Dr. Alfan juga menilai, penetapan Marsinah sebagai pahlawan nasional akan menutup kekosongan dalam sejarah Indonesia, mengingat hampir tidak ada tokoh buruh yang diakui secara resmi sebagai pahlawan sejak masa kolonial.
Baca juga : Pelatih Persik Kediri Soroti Fokus Pemain Usai Takluk 0-2 dari Borneo FC
“Kalau Marsinah mendapat gelar itu, berarti ada pengakuan terhadap perjuangan kaum buruh, apalagi dari sosok perempuan yang gigih memperjuangkan hak-hak pekerja,” tambahnya.
Senada, Ketua TP2GP RI Prof. Usep Abdul Matin menilai bahwa penganugerahan gelar kepada Marsinah saat ini mencerminkan “ruh zaman” (Zeitgeist) yang sesuai dengan arah kebijakan nasional. Ia membandingkan Marsinah dengan pahlawan buruh sebelumnya, Soerjopranoto, yang berasal dari kalangan bangsawan, sementara Marsinah adalah representasi rakyat biasa.
“Marsinah lahir dari kalangan pekerja. Inilah kekuatan moralnya. Dan bila gelar itu diberikan sekarang, waktunya sangat tepat karena selaras dengan semangat Presiden Prabowo yang menekankan keadilan dan hak-hak asasi manusia,” jelas Prof. Usep.
Ia menegaskan, pengusulan Marsinah tahun ini merupakan langkah historis yang tidak hanya menegaskan penghargaan terhadap perjuangan buruh, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam mengusung nilai-nilai kemanusiaan di tingkat global.***
Reporter: Inna Dewi Fatimah
Editor : Hadiyin





